RUANG.NEWS JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menekankan pentingnya komitmen Bank Indonesia (BI) dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Hal itu ia sampaikan saat mendalami visi dan strategi calon Gubernur BI Destry Damayanti dalam agenda Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Kamrussamad mengapresiasi penjelasan Destry mengenai strategi menyelaraskan kebijakan BI dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
“Ini artinya sejalan dengan RPJMN yang sudah kita susun untuk 2025–2029 dan merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mewujudkan pertumbuhan 8 persen,” ujar Kamrussamad.
Untuk memastikan target tersebut tidak berhenti pada tataran kebijakan, Kamrussamad menguji strategi Destry dalam memanfaatkan berbagai instrumen moneter dan makroprudensial.
Ia meminta penjelasan mengenai arah kebijakan suku bunga, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga pengendalian nilai tukar rupiah.
Menurutnya, kebijakan tersebut harus mampu memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan stabilitas.
Kamrussamad juga menyoroti efektivitas kebijakan makroprudensial BI, khususnya Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kebijakan tersebut setiap tahun mengalirkan likuiditas hingga ratusan triliun rupiah ke industri perbankan.
Ia menilai dukungan likuiditas dalam jumlah besar harus menghasilkan dampak yang jelas terhadap pembiayaan sektor produktif dan pelaksanaan program prioritas pemerintah.
Karena itu, Kamrussamad mendorong BI menetapkan indikator keberhasilan yang lebih terukur untuk setiap kebijakan likuiditas. Menurutnya, efektivitas KLM tidak cukup dinilai dari besarnya likuiditas yang disalurkan.
BI juga perlu mengukur sejauh mana kebijakan tersebut meningkatkan pembiayaan sektor produktif, mendorong aktivitas ekonomi, dan memberikan dampak nyata terhadap pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain kebijakan moneter dan makroprudensial, Kamrussamad menyinggung pengendalian inflasi.
Ia meminta BI lebih transparan dalam menjelaskan komponen inflasi, baik inflasi inti maupun inflasi pangan, termasuk komoditas yang menjadi penyumbang utama kenaikan harga.
Soroti Sistem Pembayaran
Dalam bidang sistem pembayaran, Kamrussamad mengapresiasi berbagai inovasi yang dikembangkan BI, seperti QRIS dan Kartu Kredit Indonesia.
Namun, ia mempertanyakan posisi BI yang menjalankan tiga fungsi sekaligus dalam sistem pembayaran, yakni sebagai regulator, pengawas, dan operator.
“Apakah ini pantas dilakukan? Apakah ini wajar? Apakah ini patut dilakukan oleh seorang atau lembaga otoritas moneter?” tanyanya.
Mengakhiri pendalamannya, Kamrussamad berharap Destry memiliki komitmen kuat untuk mengawal target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
“Kami ingin mendengarkan komitmen Ibu calon Gubernur Bank Indonesia di hadapan masyarakat Indonesia melalui forum ini tentang komitmen Ibu untuk mengawal pertumbuhan 8 persen. Jika target pertumbuhan ekonomi itu tidak tercapai, apakah Ibu juga bersedia mengikuti jejak Bapak Perry Warjiyo?” pungkas Kamrussamad.(***)






