RUANG.NEWS MAKASSAR — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Taruna Ikrar, melakukan kunjungan ke Instalasi Farmasi RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, Kamis (5/3/2026), untuk memperkuat sinergi penanganan penyakit Tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Selatan.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara regulator obat dan makanan dengan fasilitas pelayanan kesehatan rujukan nasional.
Rombongan BPOM RI disambut langsung oleh Direktur Utama RSUP Wahidin Sudirohusodo, Annas Ahmad Maemal, bersama jajaran direksi rumah sakit.
Dalam kunjungan tersebut, Taruna Ikrar didampingi Sekretaris Utama BPOM RI Jayadi, Deputi IV Tubagus Ade Hidayat, Deputi II Moh. Kasuri, serta sejumlah pejabat BPOM lainnya, termasuk Staf Khusus Arina Arsyad dan Wachyudi Muchsin.
Dalam peninjauan tersebut, Taruna Ikrar melihat langsung sistem pengelolaan obat di Instalasi Farmasi RSUP Wahidin Sudirohusodo, termasuk sistem distribusi, penyimpanan, serta pengendalian mutu obat.
Ia menekankan pentingnya memastikan ketersediaan obat yang aman, bermutu, dan berkhasiat sebagai bagian penting dalam keberhasilan terapi pasien, khususnya bagi penderita TBC.
Taruna Ikrar juga menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto yang menjadikan pemberantasan TBC sebagai salah satu program prioritas nasional atau quick win pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Presiden Prabowo Subianto menempatkan pemberantasan TBC sebagai program prioritas nasional. Pemerintah bahkan meningkatkan anggaran penanganan TBC hingga sekitar Rp11 triliun, termasuk dukungan dari berbagai mitra global. Ini menunjukkan komitmen kuat negara untuk melindungi kesehatan masyarakat dan meningkatkan kualitas SDM Indonesia,” ujar Taruna Ikrar.
Menurutnya, keberhasilan pemberantasan TBC membutuhkan kolaborasi kuat antara regulator, rumah sakit, tenaga kesehatan, serta pemerintah daerah.
BPOM, kata dia, berperan memastikan obat yang digunakan dalam terapi TBC memiliki standar keamanan, mutu, dan khasiat yang tinggi.
“Perang melawan TBC tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan sinergi dari hulu hingga hilir, mulai dari riset, produksi obat, pengawasan distribusi, hingga pelayanan kesehatan kepada pasien,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi ekosistem kesehatan melalui kolaborasi ABG (Academia, Business, Government) guna mendorong inovasi riset dan pengembangan obat, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap terapi berkualitas.
Sementara itu, Direktur Utama RSUP Wahidin Sudirohusodo, Annas Ahmad Maemal, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Kepala BPOM RI tersebut.
Menurutnya, sinergi antara BPOM dan rumah sakit rujukan nasional sangat penting dalam memastikan kualitas sistem farmasi rumah sakit serta mendukung keberhasilan program pengendalian penyakit menular seperti TBC.
“Kami menyambut baik kunjungan ini karena memperkuat koordinasi antara regulator dan fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan dukungan BPOM, kami optimistis upaya pengendalian TBC dapat berjalan lebih efektif,” ujarnya.
Melalui kunjungan tersebut, BPOM berharap koordinasi lintas sektor dalam upaya pengendalian TBC di Sulawesi Selatan semakin kuat, sekaligus mendukung agenda nasional pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat menuju Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.(**)





