RUANG.NEWS MAKASSAR – Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten Gowa menggelar aksi unjuk rasa di kantor sementara DPRD Sulawesi Selatan, Jalan AP Pettarani, Makassar, Rabu (15/4/2026).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas kondisi akses jalan yang rusak dan telah lama dikeluhkan masyarakat, khususnya ruas poros Sapaya–Malakaji.
Dalam aksi itu, massa mendesak DPRD Sulsel dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk memberikan kejelasan terkait rencana perbaikan jalan yang dinilai belum tersentuh pembangunan, meski menjadi kewenangan provinsi.
Aspirasi massa diterima oleh Anggota DPRD Sulsel dari Fraksi Golkar, Lukman B. Kady, yang merupakan wakil dari Daerah Pemilihan Gowa–Takalar. Turut hadir Ketua Fraksi PKB DPRD Sulsel, Zulfikar Limolang.
Menanggapi tuntutan tersebut, Lukman memastikan bahwa ruas jalan Sapaya–Malakaji sebenarnya telah masuk dalam program pembangunan multiyears Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
“Jalan Sapaya–Malakaji itu bukan tidak masuk. Justru sudah masuk dalam paket multiyears dan akan dikerjakan sampai 2027,” ujarnya.
Anggota Komisi D DPRD Sulsel itu menjelaskan, proyek tersebut termasuk dalam paket kedua pembangunan infrastruktur yang telah direncanakan oleh Pemprov Sulsel.
Ia menilai, aksi yang dilakukan mahasiswa dan pemuda dipicu oleh informasi yang tidak utuh terkait program pembangunan tersebut.
“Ini lebih ke miskomunikasi. Informasi itu tidak tersampaikan dengan baik, sehingga masyarakat mengira jalan mereka tidak diperhatikan,” katanya.
Menurut Lukman, sebagian masyarakat mengira proyek pembangunan hanya mencakup ruas Sapaya–Malino, tanpa mengetahui bahwa ruas Sapaya–Malakaji juga termasuk dalam paket pengerjaan.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa kondisi jalan di sejumlah titik memang memprihatinkan dan membutuhkan penanganan segera.
Salah satu titik kerusakan parah berada di kawasan Batu Massongko, yang kerap dikeluhkan warga karena sulit dilalui, terutama oleh kendaraan kecil.
“Di Batu Massongko itu memang rusaknya berat. Mobil kecil saja sering kesulitan lewat. Ini yang menjadi keluhan utama masyarakat,” tutup Lukman.(**)







