RUANG.NEWS MAKASSAR – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Makassar didorong melakukan transformasi politik secara menyeluruh untuk memperluas basis pemilih menjelang Pemilu 2029.
Upaya ini dinilai penting agar partai tidak hanya bergantung pada basis tradisional, tetapi juga mampu menjangkau pemilih non-tradisional, non-muslim, serta generasi milenial.
Dorongan tersebut mengemuka seiring target ambisius yang dipasang Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Makassar, Fauzi Andi Wawo, untuk merebut kursi pimpinan DPRD Makassar pada Pemilu 2029.
Target itu juga disebut sebagai langkah menjaga kesinambungan program partai sejak 2019.
Fauzi menilai tren elektoral PKB di Makassar menunjukkan peningkatan dalam beberapa periode terakhir. Dengan perolehan lima kursi saat ini, ia optimistis partainya mampu naik kelas dan bersaing di papan atas politik lokal.
Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai optimisme tersebut memiliki dasar, meski belum sepenuhnya kuat untuk dianggap pasti.
“Saya melihat optimisme PKB Makassar untuk merebut kursi pimpinan DPRD itu punya dasar, tetapi belum cukup kuat untuk disebut pasti. Dengan modal lima kursi saat ini, PKB memang menunjukkan tren kenaikan yang cukup konsisten,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Menurut Asratillah, dalam konteks politik lokal seperti Makassar, tren kenaikan elektoral lebih penting dibanding posisi saat ini. Hal itu mencerminkan arah meningkatnya kepercayaan publik terhadap partai.
Namun, ia menegaskan bahwa untuk menembus kursi pimpinan DPRD, PKB tidak cukup hanya menambah jumlah kursi. Partai juga perlu meningkatkan kualitas suara serta memperluas distribusi basis pemilih.
“Kuncinya ada pada kemampuan menjaga dan memperluas basis sosial. PKB selama ini dikenal kuat di jaringan kultural dan komunitas tertentu, tetapi untuk naik kelas, harus mampu menembus pemilih perkotaan yang lebih cair dan rasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, karakter pemilih di Makassar sebagai kota besar memiliki dinamika berbeda dibanding wilayah lain di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, pendekatan politik yang digunakan harus adaptif terhadap isu-isu perkotaan.
“Kalau hanya bertumpu pada pola lama, kenaikannya bisa stagnan. Tapi jika mampu menjawab isu-isu seperti lapangan kerja, pelayanan publik, dan kebutuhan anak muda, peluang itu terbuka,” lanjutnya.
Selain faktor basis pemilih, Asratillah juga menyoroti pentingnya kepemimpinan dalam meningkatkan elektabilitas partai. Ia menilai figur ketua DPC memiliki peran strategis dalam menjaga soliditas internal sekaligus memperluas komunikasi politik.
“Jika kepemimpinan mampu menjaga keseimbangan antara loyalitas kader dan keterbukaan terhadap figur baru, maka efek elektoralnya bisa signifikan. Banyak partai gagal naik kelas bukan karena kekurangan suara, tetapi karena konflik internal yang tidak terkelola,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya konsolidasi internal yang berjalan beriringan dengan proses regenerasi agar partai tetap dinamis dan adaptif terhadap perubahan.
Pada akhirnya, Asratillah menilai target kursi pimpinan DPRD yang dicanangkan PKB Makassar tergolong realistis, namun bersyarat. Diperlukan kerja politik yang sistematis dan berkelanjutan untuk mencapainya.
“Jika tren pertumbuhan bisa dijaga dan strategi diperluas, PKB Makassar punya peluang masuk tiga besar. Tapi tanpa inovasi, mereka bisa terus tumbuh tanpa benar-benar menembus batas psikologis sebagai kekuatan utama,” pungkasnya.(**)








