RUANG.NEWS MAKASSAR – RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar menggelar Wahidin International Symposium Event (WISE) 2026 sebagai langkah memperkuat layanan penyakit jantung di Indonesia, khususnya kawasan Indonesia Timur. Simposium ini mengusung tema “Advancing Comprehensive Cardiovascular Care”.
Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad, menegaskan bahwa WISE 2026 tidak sekadar menjadi forum ilmiah, tetapi juga ruang kolaborasi lintas sektor.
“Atas nama direksi dan civitas hospitalia, kami menyambut seluruh narasumber, peserta, dan mitra yang telah mendukung kegiatan ini,” ujar dr. Annas, Ahad (25/4/2026).
RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo menghadirkan pembicara nasional dan internasional dari Jepang, Filipina, Malaysia, hingga berbagai daerah di Indonesia dalam agenda yang juga menjadi rangkaian HUT ke-33 rumah sakit tersebut.
Dr. Annas menekankan bahwa layanan kardiovaskular ke depan harus bergerak lebih luas. Tenaga medis tidak cukup hanya mengandalkan tindakan kuratif seperti angiografi atau operasi jantung, tetapi juga perlu memperkuat pendekatan promotif, preventif, deteksi dini, rehabilitasi, hingga pemantauan jangka panjang.
“Kita tidak hanya membahas cara mengobati, tetapi juga membangun sistem yang mampu melindungi kesehatan jantung masyarakat,” tegasnya.
Ia mengungkapkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit ini pada 2022 atau sekitar 32 persen dari total kematian global.
Di Indonesia, beban penyakit jantung juga tergolong tinggi. Data World Heart Federation menunjukkan sekitar 765 ribu kematian terjadi pada 2021, dengan angka kematian mencapai 410 per 100 ribu penduduk.
“Masalah ini sudah menjadi isu strategis nasional, bukan sekadar persoalan klinis,” kata dr. Annas.
Ia menambahkan, tingginya faktor risiko seperti hipertensi, kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik memperburuk kondisi tersebut. Penyakit jantung bahkan menjadi salah satu beban terbesar pembiayaan BPJS Kesehatan, dengan nilai klaim mencapai Rp19,25 triliun pada 2024.
Melalui WISE 2026, RSUP Wahidin mendorong enam langkah utama untuk memperkuat layanan kardiovaskular. Keenamnya meliputi peningkatan pencegahan dan deteksi dini, pembangunan sistem kegawatdaruratan jantung, integrasi layanan multidisiplin, penguatan diagnosis berbasis teknologi, rehabilitasi jantung, serta pengelolaan data layanan secara terintegrasi.
Sebagai rumah sakit rujukan nasional di Indonesia Timur, RSUP Wahidin juga memperkuat jejaring layanan dengan rumah sakit daerah, fasilitas kesehatan primer, pemerintah, dan organisasi profesi.
“Layanan jantung yang maju tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga sistem yang kuat, tenaga medis kompeten, dan budaya keselamatan pasien,” ujarnya.
Melalui simposium ini, RSUP Wahidin menargetkan lahirnya rekomendasi dan inovasi yang mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan jantung di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.
“Dari Makassar, kami ingin berkontribusi pada kemajuan layanan kesehatan global, tidak hanya meningkatkan usia harapan hidup, tetapi juga kualitas hidup masyarakat,” pungkas dr. Annas.










