RUANG.NEWS MAKASSAR — Anggota Komisi E DPRD Sulawesi Selatan, Yeni Rahman, melakukan kunjungan ke SMA Negeri 14 Makassar, Senin (27/4), dalam rangka agenda pengawasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Kunjungan tersebut dihadiri oleh siswa, guru, orang tua siswa, serta alumni sekolah.
Kepala SMA Negeri 14 Makassar, Nurhidayah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran rombongan DPRD Sulsel.
Ia mengungkapkan bahwa capaian sekolah tahun ini menunjukkan peningkatan, khususnya dalam jumlah alumni yang berhasil melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Tahun ini terdapat 32 alumni yang lulus ke perguruan tinggi. Ini merupakan peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Selain itu, pihak sekolah juga tengah mempersiapkan sosialisasi penerimaan siswa baru.
Nurhidayah turut mendoakan agar Yeni Rahman senantiasa diberi kesehatan dalam menjalankan tugasnya di bidang pendidikan.
Pertanyakan Beasiswa
Dalam dialog tersebut, salah satu siswa yang juga Wakil Ketua OSIS, Kirana, menyampaikan sejumlah pertanyaan terkait akses pendidikan lanjutan.
Ia menyoroti kendala ekonomi yang masih menjadi penghambat bagi banyak siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Banyak siswa memiliki keinginan kuat untuk kuliah, namun terkendala biaya. Bagaimana cara memperoleh beasiswa prestasi agar mereka bisa terbantu?” tanyanya.
Kirana juga menanyakan strategi untuk meningkatkan jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi.
Menanggapi hal itu, Yeni Rahman menegaskan pentingnya perhatian pemerintah terhadap sekolah yang bukan berstatus unggulan.
Menurutnya, sekolah seperti SMA Negeri 14 Makassar justru memiliki tantangan lebih besar karena banyak menampung siswa dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
“Sekolah yang tidak diunggulkan justru harus mendapat perhatian lebih. Di sini banyak siswa dengan latar belakang ekonomi terbatas, bahkan menghadapi persoalan sosial. Namun, para guru mampu membina mereka hingga berprestasi,” katanya.
Yeni juga menyoroti pentingnya pembangunan sarana pendidikan secara menyeluruh. Ia menilai program revitalisasi sekolah perlu dilakukan secara komprehensif agar tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Terkait akses beasiswa, Yeni menjelaskan bahwa salah satu kendala utama adalah kepemilikan Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Menurutnya, siswa berprestasi yang tidak memiliki KIP kerap mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikan.
“Jika memiliki KIP, peluang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi lebih besar. Namun, tidak semua siswa memiliki akses tersebut,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa banyak siswa menghadapi dilema antara minat dan kemampuan akademik saat memilih jurusan, yang turut memengaruhi peluang mereka untuk diterima di perguruan tinggi.
Lebih lanjut, Yeni menilai perlunya inovasi kebijakan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh terpaku pada regulasi yang ada, melainkan harus mencari solusi agar seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama.
“Kita membutuhkan regulasi yang mampu mengakomodasi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa melanjutkan pendidikan,” katanya.
Perlunya Sistem Pengelolaan KIP
Yeni juga menyoroti perlunya sistem yang terintegrasi dalam pengelolaan KIP sejak jenjang pendidikan dasar hingga menengah.
Ia menilai kurangnya pemahaman orang tua sering menjadi penyebab terputusnya akses bantuan tersebut.
Selain itu, ia mengkritisi sistem beasiswa saat ini yang umumnya baru dapat diakses setelah siswa diterima di perguruan tinggi.
“Banyak siswa cerdas akhirnya tidak melanjutkan pendidikan karena harus diterima terlebih dahulu sebelum mendapatkan beasiswa,” ujarnya.
Ia mengusulkan agar dana beasiswa dapat dikelola sebagai tabungan pendidikan yang hanya digunakan untuk kebutuhan pendidikan lanjutan.
Namun, ia mengakui masih terdapat kendala dalam implementasinya, termasuk sistem penilaian yang dapat menghentikan bantuan bagi siswa yang dianggap sudah mampu.(**)







