RUANG.NEWS MAKASSAR — Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan yang hingga kini belum juga digelar dinilai menunjukkan adanya tarik ulur kepentingan di internal partai berlambang beringin tersebut.
Direktur Nurani Strategic Consulting, Dr. Nurmal Idrus, menilai kondisi itu tidak lepas dari menguatnya tiga poros utama yang disebut-sebut bakal bertarung dalam Musda Golkar Sulsel, yakni Andi Ina Kartika Sari, Munafri Arifuddin, dan Ilham Arief Sirajuddin.
“Tiga poros utama—Andi Ina, Munafri, dan Ilham—tampaknya membuat DPP Golkar terjebak dalam dilema,” ujar Nurmal saat dimintai tanggapannya terkait belum digelarnya Musda Golkar Sulsel.
Menurut dia, lambannya keputusan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar menjadi sinyal adanya friksi faksi yang cukup tajam di tingkat pusat. Situasi tersebut, kata dia, membuat Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, harus mengalkulasi langkah politik secara lebih hati-hati.
Nurmal menilai, jika kebuntuan itu terus berlanjut, maka peluang munculnya figur alternatif atau “kuda hitam” akan semakin terbuka lebar.
“Ini bisa menjadi dejavu Musda 2020, saat nama Taufan Pawe tiba-tiba melesat di tikungan akhir,” katanya.
Ia mengingatkan, DPP Golkar perlu segera mengambil keputusan yang cepat, adil, dan inklusif guna menutup ruang friksi serta menjaga soliditas partai menjelang pelaksanaan Musda.
Menurut Nurmal, keterlambatan penetapan agenda Musda berpotensi melemahkan soliditas internal partai jika terus dibiarkan berlarut-larut. Selain itu, momentum politik di akhir proses juga dinilai dapat dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengulang dinamika politik seperti pada Musda sebelumnya.
“DPP Golkar harus memastikan Musda berjalan sukses tanpa kejutan,” ujarnya.(**)








