RUANG.NEWS MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar memusatkan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Kecamatan Wajo, Jumat (5/6/2026).
Momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan berkelanjutan, terutama melalui pengurangan dan pengelolaan sampah dari sumbernya.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar sekaligus Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, bersama jajaran pemerintah, pelaku usaha, komunitas lingkungan, pihak kecamatan, dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Melinda menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah.
Menurutnya, pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.
“Masalah sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua. Karena itu, penyelesaiannya harus dimulai dari hulu dengan membiasakan memilah sampah sejak dari rumah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilahan sampah organik dan anorganik menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus menjaga kualitas lingkungan.
Melinda menilai TPA Antang masih menghadapi tekanan akibat tingginya volume sampah rumah tangga, terutama sampah organik yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi dan manfaat lingkungan apabila dikelola dengan baik.
Menurutnya, sampah organik tidak seharusnya seluruhnya berakhir di TPA. Sampah jenis ini dapat diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan untuk budidaya maggot.
“Karena itu, hanya sampah residu yang seharusnya dibuang ke TPA Antang,” tegasnya.
Melinda juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Makassar dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Saat ini, sejumlah TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) telah beroperasi di berbagai kecamatan, termasuk TPS3R Satando di Kecamatan Wajo yang mulai beroperasi sejak Februari 2026.
Selain itu, Kecamatan Wajo telah memiliki Bank Sampah Unit yang mengelola sampah plastik dan minyak jelantah. Program tersebut tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Melinda optimistis target Makassar sebagai kota zero waste pada 2029 dapat tercapai apabila seluruh pihak konsisten menerapkan prinsip 5R, yakni Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Rot (mengomposkan).
“Penerapan prinsip 5R secara konsisten akan menjadi kunci utama keberhasilan Makassar menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” katanya.
Luncurkan CHIGANJING dan Perkuat Komitmen Pengelolaan Sampah
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 diawali dengan senam sehat dan aksi Jumat Bersih yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Pemerintah Kota Makassar kemudian menandatangani komitmen bersama dengan pelaku usaha sektor hotel, restoran, dan kafe (HORECA) serta PT Pelindo untuk menerapkan pemilahan sampah dari sumbernya.
Pada kesempatan tersebut, pemerintah juga meresmikan sejumlah Tempat Ekologi Bersama (TEBA), mendemonstrasikan mesin pencacah sampah hasil rakitan TPS3R Satando, membagikan bibit tanaman, serta menyerahkan bantuan Teknologi Tepat Guna (TTG) dan peralatan berkebun kepada 15 kecamatan di Kota Makassar.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian ialah peluncuran kampanye “Makan Habis Tanpa Sisa” atau CHIGANJING.
Kampanye ini mengangkat filosofi masyarakat Tionghoa yang mengajarkan pentingnya menghabiskan makanan untuk menghindari pemborosan dan sampah makanan.
Poster kampanye tersebut dibagikan kepada pemilik rumah makan, restoran, kafe, hotel, hingga perusahaan transportasi sebagai upaya mendorong budaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Camat Wajo, Ivan Kala’lembang, mengatakan CHIGANJING diharapkan menjadi gerakan nyata yang mampu mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar membuang sampah menjadi mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Program ini tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial semata, tetapi harus menjadi lokomotif perubahan kebiasaan masyarakat dari membuang sampah menjadi memilah dan mengelolanya,” ujar Ivan.
Menurutnya, perubahan perilaku menjadi faktor utama dalam menyelesaikan persoalan sampah yang semakin kompleks.
Apalagi, kapasitas TPA saat ini tidak lagi sebanding dengan volume sampah yang dihasilkan setiap hari.
Karena itu, Kecamatan Wajo mendorong pemanfaatan komposter, TEBA, dan biopori untuk mengurangi sisa makanan dan sampah organik rumah tangga.
Wajo Siapkan Armada Angkut Sampah Organik Terpilah
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, Kecamatan Wajo menyiapkan sistem pengangkutan sampah organik terpilah melalui armada pengangkut sampah yang beroperasi di wilayahnya.
Masyarakat, baik rumah tangga maupun pelaku usaha, diwajibkan memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum petugas melakukan pengangkutan.
Dalam kegiatan itu, Ivan juga mendistribusikan bak sampah organik kepada 22 armada pengangkut sampah di Kecamatan Wajo.
“Bak sampah organik ini diperuntukkan untuk 22 armada pengangkut sampah di wilayah Kecamatan Wajo,” tuturnya.
Ia menjelaskan, sampah organik yang telah dipilah tidak akan langsung dibawa ke TPA Antang, melainkan diolah terlebih dahulu di TPS3R Satando, Kelurahan Malimongan Tua.
Melalui pengelolaan tersebut, sampah organik dapat diubah menjadi produk yang lebih bermanfaat sekaligus mengurangi beban TPA dan mendukung ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
DLH Makassar Lanjutkan Rangkaian Peringatan Hari Lingkungan Hidup
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Menurut Helmy, rangkaian kegiatan akan berlanjut pada Sabtu (6/6/2026) melalui aksi kerja bakti dan pawai lingkungan yang melibatkan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin beserta jajaran Pemerintah Kota Makassar.
“Besok Pemerintah Kota Makassar bersama Bapak Wali Kota Makassar dan seluruh jajaran akan melaksanakan kerja bakti sekaligus kegiatan jalan santai atau survei lingkungan secara serentak nasional,” katanya.
Kegiatan akan dimulai dari Balai Kota Makassar dan berakhir di kawasan Makassar Creative Hub (MCH) di Jalan Nusantara.
Di lokasi tersebut, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan edukasi lingkungan, termasuk demonstrasi River Screening Machine yang berfungsi membantu pengumpulan dan pemilahan sampah di sungai maupun kanal.
Panitia juga menyiapkan penimbangan sampah, penukaran sampah dengan suvenir, serta edukasi mengenai daur ulang dan ekonomi sirkular.
DLH Makassar menargetkan 200 hingga 300 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Helmy menilai keterlibatan generasi muda sangat penting karena mereka memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam membangun budaya peduli lingkungan.
“Sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah semata, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan apabila dipilah dengan baik sejak dari sumbernya,” ujar Helmy.
Melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pemerintah Kota Makassar berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat semakin kuat untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, serta mendukung target Makassar menuju kota zero waste pada 2029.(**)








