RUANG.NEWS MAKASSAR — Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung, menggelar silaturahmi bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, sahabat, dan berbagai elemen umat dari sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, Minggu (7/6/2026).
Pertemuan tersebut menjadi forum diskusi dan konsolidasi untuk membahas tantangan bangsa sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mendukung pembangunan nasional.
Dalam sambutannya, Tamsil menegaskan pentingnya memperkuat persatuan dan konsolidasi masyarakat di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Menurutnya, Indonesia saat ini berada pada momentum penting untuk mewujudkan cita-cita menjadi bangsa yang mandiri, baik di bidang ekonomi maupun pertahanan.
“Kita harus membangun kemandirian bangsa. Lepas dari ketergantungan terhadap pihak asing bukan berarti menutup diri, tetapi bagaimana Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan ekonominya sendiri dan memiliki ketahanan yang kuat dalam berbagai sektor,” ujar Tamsil.
Ia menilai lemahnya konsolidasi antarelemen masyarakat pada masa lalu menjadi salah satu faktor yang membuat berbagai potensi bangsa belum termanfaatkan secara optimal.
Karena itu, ia mengajak seluruh komponen masyarakat untuk memperkuat persatuan dan membangun kerja sama yang lebih konkret.
“Konsolidasi kita pada masa lalu memang lemah. Karena itu sekarang saatnya memperkuat persatuan, memperkuat jaringan sosial, dan membangun kerja sama yang lebih konkret untuk kepentingan bangsa,” katanya.
Tamsil juga menyinggung visi pembangunan yang selama ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, cita-cita mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaulat membutuhkan dukungan seluruh elemen bangsa agar dapat terealisasi secara nyata.
Dalam dialog bersama peserta, Tamsil mengaku menerima berbagai masukan terkait arah pembangunan nasional.
Salah satu isu yang mengemuka adalah kekhawatiran sejumlah pihak terhadap kebijakan ekonomi yang dinilai lebih berpihak kepada rakyat.
“Saya menerima surat dan berbagai pandangan yang menyebut bahwa oligarki dan kelompok konglomerat tertentu merasa khawatir terhadap kebijakan ekonomi kerakyatan. Ini menunjukkan bahwa perjuangan menghadirkan keadilan ekonomi masih menjadi tantangan besar bagi bangsa kita,” ungkapnya.
Selain persoalan ekonomi, Tamsil mengingatkan pentingnya menjaga kepentingan nasional dari berbagai pengaruh eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pembangunan Indonesia.
Ia menekankan perlunya kesadaran kolektif untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok maupun kepentingan pihak luar.
Pada kesempatan yang sama, Tamsil juga menyoroti peran generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam mengawal proses pembangunan nasional.
Menurutnya, sikap kritis merupakan bagian penting dari demokrasi, namun harus diiringi dengan gagasan dan solusi yang konstruktif.
“Mahasiswa adalah kekuatan moral bangsa. Energi kritis yang dimiliki harus menjadi kekuatan untuk memperbaiki keadaan, bukan sekadar menolak tanpa memberikan alternatif solusi,” ujarnya.
Menutup pertemuan tersebut, Tamsil mengajak seluruh tokoh masyarakat, tokoh agama, dan elemen umat untuk mengambil peran aktif dalam mendukung pembangunan nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Kita sudah puluhan tahun mengikuti kajian, pengajian, dan berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Sekarang saatnya kita bertanya kepada diri sendiri, apa manfaat yang sudah kita berikan untuk umat dan bangsa ini,” ucapnya.
“Tujuan nasional kita jelas, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum. Karena itu, mari bersama-sama mengambil peran dan memberikan kontribusi terbaik bagi negeri ini,” tutupnya.(**)







