RUANG.News, MAKASSAR, – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat, pada Agustus 2025 tingkat pengangguran terbuka (TPT) di wilayah kerjanya sebesar 4,21 persen. Angka ini sedikit naik 0,02 persen poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (Agustus 2024) yang sebesar 4,19 persen.
Secara wilayah, Kota Makassar masih mencatat tingkat pengangguran tertinggi di Sulsel dengan 9,60 persen, diikuti Kota Palopo (7,53 persen) dan Kota Parepare (4,98 persen). Sementara itu, tingkat pengangguran terendah tercatat di Kabupaten Enrekang dengan hanya 1,78 persen.
Menurut BPS Sulsel, kenaikan kecil ini terjadi di tengah peningkatan jumlah penduduk usia kerja dan angkatan kerja di Sulsel. Jumlah angkatan kerja Sulsel mencapai 4,97 juta orang, meningkat 82,34 ribu orang dibanding Agustus 2024.
“Dari total angkatan kerja tersebut, 4,76 juta orang telah bekerja dan 208,95 ribu orang masih menganggur. Secara sederhana, dari setiap 100 angkatan kerja, ada sekitar empat orang yang belum mendapatkan pekerjaan,” terang BPS Sulsel dalam rilis resminya, Rabu (5/11/2025).
Meski demikian, BPS menilai situasi ketenagakerjaan Sulsel relatif stabil. Peningkatan jumlah penduduk bekerja lebih besar dibanding kenaikan pengangguran. Ini menunjukkan pasar kerja masih cukup dinamis.
“Berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki mencapai 4,39 persen, lebih tinggi dibanding TPT perempuan 3,92 persen. Berdasarkan tingkat pendidikan, lulusan SMA menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yaitu 7,22 persen. Disusul oleh lulusan perguruan tinggi (S1–S3) sebesar 6,54 persen, dan SMK sebesar 6,17 persen. Sementara tingkat pengangguran terendah tercatat pada lulusan SD ke bawah yang hanya 1,19 persen,” papar BPS Sulsel.
Data ini juga memperlihatkan tren yang konsisten dalam dua tahun terakhir, di mana pengangguran didominasi oleh lulusan SMA. Pada Agustus 2025, 41,88 persen dari total penganggur di Sulsel adalah lulusan SMA.
Lebih jauh BPS Suksel.merinci, jumlah penduduk bekerja di Sulsel pada Agustus 2025 mencapai 4,76 juta orang, dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar yakni 36,33 persen. Disusul sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 18,18 persen, serta industri pengolahan sebesar 7,47 persen.
Sektor pertanian juga menjadi lapangan kerja yang tumbuh paling signifikan dibanding tahun sebelumnya, dengan kenaikan 72,38 ribu pekerja.
BPS juga mencatat bahwa proporsi tenaga kerja informal masih lebih tinggi dibanding formal. Pada Agustus 2025, 60,45 persen pekerja di Sulsel berstatus informal, sedangkan 39,55 persen lainnya bekerja di sektor formal. Meski masih didominasi sektor informal, terjadi peningkatan kecil pekerja formal sebesar 0,05 persen poin dibanding Agustus 2024.
Sebagian besar penduduk bekerja di Sulsel adalah pekerja penuh waktu (≥35 jam per minggu) dengan persentase 62,64 persen. Sementara 29,43 persen merupakan pekerja paruh waktu, dan 7,93 persen tergolong setengah pengangguran (jam kerja di bawah 35 jam per minggu dan masih mencari pekerjaan lain).
Tingkat pekerja paruh waktu naik 0,43 persen poin dibanding Agustus 2024. Adapun tingkat setengah pengangguran stabil di angka 7,93 persen.
Sementara untuk skala nasional, BPS pusat melaporkan angka pengangguran di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang. Ini setara dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,85 persen pada Agustus 2025, turun dibandingkan 4,91 persen pada Agustus 2024.
“Angka pengangguran menurun sekitar empat ribu orang pada 2025,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud di Jakarta, Rabu (5/11).
Namun, jika dibandingkan dengan data jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 yang sebanyak 7,28 juta orang, angka pengangguran di Indonesia pada Agustus 2025 justru mengalami kenaikan.
Menurut BPS, jumlah angkatan kerja di Indonesia bertambah 1,89 juta orang menjadi 154 juta orang per Agustus 2025. Dari jumlah tersebut, yang terserap ke lapangan kerja sebanyak 146,54 juta orang, naik 1,90 juta orang dibandingkan Agustus 2024.
“BPS juga mencatat peningkatan proporsi pekerja formal dari total penduduk yang bekerja yaitu dari 40,60 persen pada Agustus 2024 menjadi 42,20 persen per Agustus 2025,” terang Edy.
Pekerja formal adalah mereka yang bekerja sebagai buruh, karyawan atau pegawai. Sementara itu, terdapat tiga lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja pada Agustus 2025.
Sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbesar, sebanyak 490 ribu orang. Selanjutnya sektor perdagangan atau akomodasi serta makan dan minum menyerap 420 ribu orang.
Berdasarkan latar belakang pendidikan, penduduk bekerja masih didominasi lulusan SD ke bawah atau sebesar 50,92 persen. Lulusan SMA 21,19 persen (31,05 juta orang), dan sarjana D IV, S1, S2 dan S3 sebesar 10,84 persen (15,88 juta orang). (*)








