MAKASSAR – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) menegaskan bahwa nilai-nilai AKHLAK tidak hanya menjadi slogan perusahaan, tetapi diterapkan secara nyata dalam budaya kerja dan transformasi perusahaan di tengah percepatan transisi energi.
Manajer Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar, Ahmad Amirul Syarif, mengatakan internalisasi nilai AKHLAK dilakukan melalui keteladanan pimpinan, budaya kerja sehari-hari, sistem pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta penerapannya dalam pelaksanaan tugas.
“Internalisasi nilai AKHLAK dilakukan melalui keteladanan pimpinan, budaya kerja sehari-hari, sistem pengembangan SDM, serta penerapannya dalam pelaksanaan tugas. Nilai Adaptif dan Kolaboratif menjadi sangat penting dalam menghadapi perubahan industri energi yang berlangsung cepat,” ujar Ahmad, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan, implementasi program seperti SuperSUN maupun pengembangan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) menuntut pegawai untuk mampu beradaptasi dengan teknologi baru dan memahami kebutuhan pelanggan yang terus berkembang.
“Dalam implementasi program seperti SuperSUN maupun pengembangan infrastruktur SPKLU, pegawai dituntut untuk mampu beradaptasi dengan teknologi baru, memahami kebutuhan pelanggan yang terus berkembang, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, regulator, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dengan demikian, AKHLAK menjadi pedoman perilaku yang nyata dalam mendukung transformasi PLN,” katanya.
Di sisi lain, Ahmad mengatakan nilai-nilai AKHLAK juga menjadi fondasi penting dalam menjaga resiliensi dan integritas pegawai di tengah tingginya beban operasional dan kerja lapangan.
“Dalam kondisi operasional yang menuntut respons cepat dan kerja lapangan yang intensif, nilai Amanah, Kompeten, dan Kolaboratif menjadi fondasi utama,” ujarnya.
Menurutnya, nilai Amanah memastikan setiap insan PLN tetap mengutamakan keselamatan kerja dan kepentingan pelanggan, sedangkan Kompeten memastikan seluruh pekerjaan dilakukan sesuai standar teknis dan prosedur keselamatan yang berlaku.
“Sementara itu, Kolaboratif menjadi faktor penting karena banyak tantangan operasional, mulai dari pemulihan gangguan hingga pengembangan infrastruktur transisi energi seperti SuperSUN dan SPKLU, membutuhkan koordinasi yang kuat antarunit serta dukungan berbagai pemangku kepentingan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ahmad mengungkapkan bahwa peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) di sistem kelistrikan Sulselrabar yang telah mencapai sekitar 45,8 persen juga menghadirkan tantangan baru dalam pengembangan kompetensi SDM.
“Seiring meningkatnya penetrasi energi terbarukan, kompetensi yang semakin penting adalah kemampuan mengelola sistem kelistrikan yang lebih dinamis, termasuk forecasting, digital monitoring, manajemen beban, analisis data sistem, dan integrasi pembangkit energi terbarukan ke dalam jaringan listrik,” katanya.
Selain itu, kata dia, SDM PLN juga dituntut memahami perkembangan teknologi baru yang mendukung transisi energi, termasuk elektrifikasi sektor transportasi melalui ekosistem kendaraan listrik.
“Oleh karena itu, PLN terus memperkuat kapasitas SDM agar mampu mengelola sistem dengan andal, mendukung pengembangan program energi bersih seperti SuperSUN, serta memastikan kesiapan infrastruktur pendukung kendaraan listrik melalui SPKLU sebagai bagian dari upaya mencapai target dekarbonisasi nasional,” pungkasnya. (*)










