RUANG.NEWS, Makassar – Tim Disaster Victim Identification (DVI), Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel kembali menerima satu jenazah diduga korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa. Jenazah berjenis kelamin laki-laki itu ditemukan mengapung oleh tim SAR gabungan di peralatan sebelah timur laut Pulau Matallang Kabupaten Pangkep, Kamis (23/7/2026) kemarin.
Kepala Biddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr. Muhammad Haris, mengatakan proses identifikasi akan dilakukan sesuai prosedur DVI sebagaimana penanganan korban bencana maupun kecelakaan massal lainnya.
“Untuk proses identifikasi korban seperti kasus-kasus sebelumnya,” kata Haris dalam konferensi pers di Rs Bhayangkara Makassar, Jumat (24/7).
Ia mengungkapkan kondisi jenazah saat diterima sudah mengalami pembusukan sehingga proses identifikasi akan bergantung pada kondisi fisik korban.
“Nanti kita lihat. Kalau sidik jari lebih utuh itu bisa lebih cepat. Mungkin profil data giginya sudah ada, termasuk properti, kemudian ciri medis lainnya,” katanya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan jenazah yang ditemukan di perairan timur laut Pulau Matallang telah resmi diserahterimakan kepada Tim DVI untuk memastikan identitasnya.
“Sekarang jasadnya sudah sampai di sini dan sudah diserahterimakan. Selanjutnya akan dilakukan identifikasi lebih lanjut oleh Tim DVI,” ujarnya.
Didik menyebut hingga saat ini masih terdapat 14 penumpang KM Nurul Salsa yang belum ditemukan. Ia berharap seluruh korban yang masih hilang dapat segera ditemukan.
“Mohon doa restu kepada seluruh masyarakat. Mudah-mudahan dalam proses pencarian ini akan segera berhasil sesuai dengan yang kita harapkan,” ucapnya.
Di sisi lain, Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muh Arif Anwar, menyampaikan operasi pencarian hari kesepuluh dijadwalkan ditutup sementara pada Jumat sore setelah masa perpanjangan operasi selama tiga hari berakhir.
“Penutupan sementara ini sudah sesuai SOP. Operasi SAR awalnya berlangsung tujuh hari, kemudian diperpanjang tiga hari berdasarkan hasil evaluasi. Hari kesepuluh ini direncanakan ditutup sementara sesuai arahan pimpinan pusat,” jelas Arif.
Meski demikian, ia memastikan apabila di kemudian hari terdapat laporan penemuan korban, Basarnas akan kembali membuka operasi, namun dalam bentuk operasi evakuasi.
“Kalau ada laporan penemuan korban, kami akan membuka operasi evakuasi untuk mengambil korban dan menyerahkannya kepada Tim DVI,” katanya.
Arif juga mengungkapkan cuaca menjadi tantangan terbesar selama operasi pencarian. Kecepatan angin dari arah timur hingga tenggara mencapai 15–20 knot yang memicu gelombang setinggi sekitar tiga meter, sehingga menyulitkan kapal utama SAR beroperasi di sekitar pulau-pulau kecil.
“Dalam operasi SAR kali ini hampir tidak pernah ada cuaca yang benar-benar baik. Karena itu kami lebih banyak mengoptimalkan penggunaan speed boat dari atas KN SAR Kamajaya agar pencarian tetap bisa dilakukan di pulau-pulau yang tidak dapat dijangkau kapal besar,” tutupnya. (**)










