RUANG.NEWS JAKARTA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan Presiden Prabowo Subianto mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) sebagai pusat pendidikan strategis untuk mencetak calon pemimpin bangsa, aparatur negara, pejabat publik, serta sumber daya manusia unggul di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Taruna Ikrar menilai pendirian URI merupakan implementasi nyata Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, reformasi birokrasi, serta peningkatan daya saing nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, konsep Universitas Republik Indonesia juga sejalan dengan model pembangunan berbasis kolaborasi Academic, Business, Government (ABG) yang selama ini ia dorong.
Konsep tersebut mengintegrasikan perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemerintah agar hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi inovasi, teknologi, industri, dan kebijakan publik yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Presiden Prabowo menempatkan pembangunan manusia sebagai investasi terbesar bangsa. Universitas Republik Indonesia menjadi instrumen strategis untuk melahirkan pemimpin masa depan yang menguasai STEM, memiliki integritas, berkarakter kebangsaan, serta mampu membangun sinergi Academic, Business, dan Government (ABG). Inilah ekosistem yang akan mempercepat inovasi, hilirisasi hasil riset, dan memperkuat daya saing Indonesia,” ujar Taruna Ikrar.
Ia menjelaskan, URI menggabungkan pendidikan kepemimpinan, administrasi publik, dan penguasaan STEM sehingga mampu memperkuat kapasitas birokrasi sekaligus mempercepat lahirnya inovasi nasional.
Model tersebut mengadopsi praktik terbaik pendidikan kepemimpinan publik di berbagai negara, termasuk Prancis, dengan penyesuaian terhadap kebutuhan pembangunan Indonesia.
Taruna juga menyoroti pengalaman sejumlah negara maju yang berhasil membangun daya saing melalui penguatan perguruan tinggi sebagai pusat riset dan inovasi.
Menurutnya, Jepang mampu bangkit setelah Perang Dunia II dengan menjadikan universitas sebagai motor pengembangan teknologi dan industrialisasi.
Sementara itu, Tiongkok berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan teknologi dunia melalui penguatan kampus sebagai pusat pengembangan sains, kecerdasan buatan, bioteknologi, manufaktur maju, serta hilirisasi inovasi yang melahirkan perusahaan-perusahaan global.
Karena itu, Taruna menilai Indonesia perlu menerapkan paradigma serupa melalui Universitas Republik Indonesia.
“Universitas Republik Indonesia tidak boleh hanya menjadi institusi pendidikan tinggi. Kampus harus menjadi pusat peradaban, pusat inovasi, pusat riset unggulan, sekaligus pusat pencetak pemimpin bangsa. Dari kampus harus lahir kebijakan berbasis sains, teknologi unggulan, industri nasional yang kompetitif, serta pemimpin yang mampu menjawab tantangan global,” katanya.
Ia menegaskan, negara-negara maju menjadikan universitas sebagai jantung pembangunan nasional.
Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang lahirnya ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi, kebijakan publik, hingga pemimpin yang mampu mengubah peradaban.
“Karena itu, gagasan Presiden Prabowo mendirikan Universitas Republik Indonesia merupakan investasi strategis jangka panjang yang sejalan dengan Asta Cita sekaligus memperkuat konsep ABG sebagai fondasi transformasi Indonesia menjadi negara maju,” tegasnya.
Pemerintah menargetkan pembangunan 10 kampus Universitas Republik Indonesia secara bertahap dengan dukungan pendanaan dari APBN.
Kampus pertama direncanakan berdiri di Cikasungka, Bogor Utara, dengan memanfaatkan lahan perkebunan sawit yang tidak lagi produktif milik PTPN sebagai bentuk optimalisasi aset negara.
Universitas Republik Indonesia nantinya berada di bawah Badan Pengelola Pendidikan Kebangsaan yang mengintegrasikan Sekolah Unggulan Garuda, perguruan tinggi, hingga Lembaga Administrasi Negara (LAN).
Presiden Prabowo Subianto juga menunjuk Marsekal TNI (Purn.) Donny Ermawan Taufanto sebagai Gubernur Universitas Republik Indonesia dan Prof. Yos Sunitiyoso sebagai Wakil Gubernur URI.
Kepemimpinan tersebut diharapkan mampu membangun universitas berkelas dunia yang melahirkan pemimpin berintegritas, inovatif, adaptif, dan berdaya saing global.
Bagi Taruna Ikrar, keberhasilan Indonesia pada 2045 tidak hanya bergantung pada kekayaan sumber daya alam, tetapi terutama ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya.
Oleh karena itu, investasi pada pendidikan unggul, riset, inovasi, dan hilirisasi teknologi melalui Universitas Republik Indonesia menjadi langkah strategis untuk mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045 sekaligus mendukung visi besar Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.(***)






