RUANG.NEWS PALEMBANG – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Dr. Taruna Ikrar, mengingatkan bahwa resistensi antibiotik telah berkembang menjadi ancaman serius bagi kesehatan global.
Ia menegaskan, penggunaan antibiotik yang tidak rasional berpotensi menghapus berbagai kemajuan dunia kedokteran jika tidak segera dikendalikan.
Pesan tersebut disampaikan Taruna Ikrar saat memberikan kuliah umum di Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang, Jumat (31/7/2026), di hadapan ratusan mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika.
Mewakili Rektor Universitas Sriwijaya, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi, dan Teknologi Informasi, Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, Sp.PD., K-R., M.Sc., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala BPOM RI di kampus Unsri.
Menurutnya, kuliah umum tersebut memberikan wawasan strategis mengenai tantangan kesehatan global sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan regulator dalam pengembangan riset, inovasi, serta hilirisasi hasil penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam paparannya, Taruna Ikrar menjelaskan bahwa antibiotik merupakan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah kedokteran.
Namun, penggunaan yang tidak tepat telah mempercepat munculnya bakteri yang kebal terhadap obat sehingga infeksi yang sebelumnya mudah diobati berpotensi kembali mematikan.
“Resistensi antibiotik adalah pandemi senyap. Jika tidak dikendalikan sejak sekarang, dunia dapat memasuki era pasca-antibiotik, ketika infeksi biasa kembali menjadi penyebab kematian. Karena itu, penggunaan antibiotik harus dilakukan secara bijaksana, tepat indikasi, tepat dosis, dan berdasarkan resep tenaga kesehatan,” ujarnya.
Taruna mengungkapkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Antimicrobial Resistance (AMR)sebagai salah satu dari sepuluh ancaman terbesar terhadap kesehatan global.
Ia menjelaskan, berbagai penelitian internasional menunjukkan resistensi antimikroba menyebabkan lebih dari 1,2 juta kematian setiap tahun secara langsung. Sementara itu, jutaan kematian lainnya berkaitan dengan infeksi yang tidak lagi dapat ditangani secara efektif.
Tanpa intervensi yang kuat, beban kesehatan dan ekonomi akibat resistensi antibiotik diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.
Menurut Taruna, pemerintah dan tenaga kesehatan tidak bisa bekerja sendiri menghadapi persoalan tersebut. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat lahirnya ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan edukasi masyarakat.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa Universitas Sriwijaya menjadi agen perubahan dengan membangun budaya penggunaan antibiotik secara rasional di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Kampus adalah pusat peradaban dan inovasi. Dari kampus lahir pemikiran-pemikiran besar yang mampu mengubah bangsa. Saya mengajak mahasiswa Universitas Sriwijaya menjadi pelopor literasi kesehatan, mengedukasi masyarakat agar tidak membeli antibiotik sembarangan, tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya, dan tidak menggunakan antibiotik untuk penyakit yang disebabkan virus,” katanya.
Taruna juga memaparkan berbagai langkah yang dilakukan BPOM dalam memperkuat pengawasan terhadap mutu, keamanan, dan khasiat obat, termasuk antibiotik.
Upaya tersebut meliputi pengawasan berbasis sains, digitalisasi sistem registrasi, penguatan laboratorium, serta kolaborasi dengan kementerian, lembaga, perguruan tinggi, dan organisasi profesi.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan sistem kesehatan nasional sekaligus mendukung pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelayanan kesehatan yang berkualitas, inovatif, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Kuliah umum itu juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara BPOM dan Universitas Sriwijaya dalam pengembangan riset, pendidikan, serta inovasi di bidang obat dan makanan.
Taruna menilai kolaborasi antara regulator dan perguruan tinggi menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks pada masa mendatang.
Dalam kegiatan tersebut, Taruna Ikrar didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan BPOM dr. Elfi Taruna Ikrar, Sekretaris Utama BPOM Irjen Pol. Dr. Jayadi, S.I.K., M.H., Staf Khusus Kepala BPOM dr. Wachyudi Muchsin, S.Ked., S.H., M.Kes., C.Med., Kepala Biro Umum Asih Lisa, Kepala Biro Sumber Daya Manusia Irwansyah, Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Lynda K. Wardhani, Direktur Pengawasan Pangan Olahan Sondang, serta jajaran BPOM lainnya.
Melalui kuliah umum tersebut, BPOM berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan masyarakat.
Di tengah meningkatnya ancaman resistensi antibiotik, edukasi, riset, dan kolaborasi menjadi investasi penting untuk menjaga efektivitas antibiotik sekaligus melindungi kesehatan masyarakat Indonesia di masa depan.(***)






