RUANG.News – Kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tren pelemahan dan mendekati level Rp17.000 per dolar AS pada Rabu (14/1/2026) siang.
Mengutip Bloomberg, rupiah terpantau melemah menuju level Rp16.863 per dolar AS. Dalam beberapa pekan terakhir, mata uang Garuda terus berada dalam tekanan.
Menanggapi kondisi ini, Bank Indonesia (BI) menyampaikan, pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya tekanan di pasar keuangan global.
“Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).
“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” sambungnya.
Erwin mengatakan, kondisi tersebut mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp16.860 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026), atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara year to date (ytd).
“Meskipun demikian, pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46 persen dan peso Filipina sebesar 1,04 persen,” ujarnya.
Erwin memastikan, BI konsisten menjaga stabilitas nilai tukar untuk mendukung stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi.
Ia menyebut, nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi BI yang dilakukan secara berkesinambungan.
Adapun kebijakan tersebut dilakukan melalui intervensi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
“Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026, juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah,” ujarnya.
“Hal ini sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, tercermin dari premi risiko credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 basis poin,” terangnya.
Ketahanan eksternal Indonesia, lanjut Erwin, juga tetap baik. Hal itu tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS, setara dengan 6,4 bulan impor dan dinilai memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.
Ia menegaskan, BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. BI juga akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. (*)










