RUANG.NEWS SIDRAP — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mendorong pengembangan tanaman kopi sebagai strategi ganda, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi risiko bencana alam, khususnya tanah longsor di wilayah pegunungan.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menegaskan bahwa penanaman kopi tidak lagi semata berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Kopi yang digelar di Aula Saromase, Kompleks SKPD, Kelurahan Batu Lappa, Kecamatan Watang Pulu, Selasa (31/3/2026).
Rakor tersebut dihadiri Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Nakertrans Adli Lukman, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Muhammad Fajri Salman, serta Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Gazali.
Hadir pula sejumlah kepala desa, kelompok tani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan undangan lainnya.
Syaharuddin menekankan bahwa keberhasilan pembangunan sektor perkebunan sangat bergantung pada kesiapan mental para pelaku, khususnya petani. Ia mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir dalam mengelola potensi sumber daya alam yang dimiliki.
“Di tanah yang subur ini, kita harus mengubah pola pikir untuk menanam dan berkebun. Kita sudah mulai, tetapi perlu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi,” ujarnya.
Ia menilai kopi merupakan komoditas unggulan yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Sidrap secara signifikan.
Namun demikian, Syaharuddin menyoroti masih rendahnya pemanfaatan potensi lahan yang tersedia. Dari kuota pengembangan kopi robusta seluas 10.000 hektare, baru sekitar 250 hektare yang diusulkan secara resmi oleh petani.
“Kita harus meningkatkan produksi agar mampu memenuhi permintaan pasar dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya minta petani aktif mengajukan kebutuhan dan kendala yang dihadapi,” tegasnya.
Selain itu, pengembangan kopi di wilayah pegunungan juga dinilai penting sebagai langkah mitigasi bencana. Tanaman kopi diharapkan mampu memperkuat struktur tanah pada lahan miring sehingga dapat mengurangi risiko longsor.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Gazali, melaporkan bahwa pada 2025 Sidrap memperoleh alokasi pengembangan kopi robusta seluas 250 hektare. Untuk 2026, pemerintah daerah telah mengusulkan bantuan bibit untuk pengembangan lahan hingga 5.000 hektare.
Menanggapi hal tersebut, Syaharuddin menyatakan komitmennya untuk mengawal langsung program pengembangan kopi di daerahnya.
“Saya akan memimpin langsung pengembangan kopi di Sidrap. Kita harus bekerja sama agar potensi besar ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Dalam rakor tersebut, peserta juga membahas berbagai strategi teknis pengembangan kopi, mulai dari penyediaan bibit unggul, peningkatan kapasitas petani, hingga perluasan akses pasar bagi produk kopi lokal Sidrap.(**)







