RUANG.NEWS MAKASSAR – Pengamat Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Hasrullah, mengingatkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar agar tidak salah menentukan Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar Sulsel.
Menurut Hasrullah, dinamika jelang pelaksanaan Musda Golkar Sulsel menunjukkan adanya tarik ulur politik yang berpotensi mengganggu konsolidasi partai.
Ia menilai penundaan agenda musda mencerminkan lemahnya konsistensi internal Golkar dalam membangun kekuatan politik di daerah.
“Kita tidak punya konsistensi membesarkan Golkar. Saya melihat ada tarik ulur dalam pelaksanaan musda. Kalau kembali ditunda, berarti ada figur tertentu yang sedang diorbitkan,” ujar Hasrullah, Ahad (17/5/2026).
Hasrullah menduga terdapat pihak-pihak tertentu yang ingin kembali mengambil posisi strategis di tubuh Golkar Sulsel. Ia mengingatkan, kondisi tersebut dapat melemahkan posisi partai berlambang pohon beringin itu di Sulawesi Selatan.
Ia menyebut tiga nama kader Golkar yang saat ini dinilai layak memimpin Golkar Sulsel, yakni Ilham Arief Sirajuddin (IAS), Munafri Arifuddin (Appi), dan Andi Ina Kartika Sari. Ketiganya dianggap memiliki pengalaman politik dan kapasitas kepemimpinan yang kuat.
“Publik sudah melihat tiga nama calon nahkoda Golkar Sulsel. Biarkan mereka berkompetisi secara terbuka tanpa ada ‘pemimpin gelap’,” katanya.
Hasrullah menilai masing-masing kandidat memiliki rekam jejak yang mumpuni. IAS dinilai berpengalaman sebagai mantan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin saat ini menjabat Wali Kota Makassar, sedangkan Andi Ina Kartika Sari pernah memimpin DPRD Sulawesi Selatan.
“Saya kira tiga figur ini punya kapasitas masing-masing. Yang penting jangan sampai Golkar salah pilih lagi,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya mengembalikan kejayaan Golkar Sulsel seperti pada era kepemimpinan Jusuf Kalla dan periode setelahnya.
Menurutnya, pengalaman kepemimpinan sebelumnya harus menjadi bahan evaluasi agar partai tidak kembali kehilangan basis suara di Sulawesi Selatan.
“Kalau masih ada penumpang gelap, Golkar bisa kembali kalah di Sulsel,” ujarnya.
Karena itu, Hasrullah meminta Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, lebih cermat dalam memberikan rekomendasi kepada calon ketua Golkar Sulsel.
Ia menilai DPP Golkar harus mempertimbangkan rekam jejak kader dalam menjaga dan meningkatkan basis suara partai di daerah.
“Jangan sampai Golkar diacak-acak lagi dari Jakarta. Basis suara Golkar di Sulsel sebelumnya sempat tergeser, berarti ada yang tidak maksimal,” kata Hasrullah.
Ia kembali mengingatkan bahwa keputusan DPP Golkar akan sangat menentukan masa depan partai di Sulawesi Selatan menjelang kontestasi politik mendatang.
“Kalau salah pilih lagi, berarti DPP yang keliru. Sulsel bisa gagal mempertahankan reputasi dan prestasi politik yang pernah dicapai Golkar sebelumnya,” pungkasnya.(**)







