RUANG.NEWS, Makassar — Kegelisahan menyelimuti hati Sutrawati Kaharuddin (52) setelah komunikasi dengan putranya, Andi Angga Prasadewa (33), tiba-tiba terputus saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina.
Relawan asal Makassar tersebut diketahui bergabung dalam pelayaran bantuan kemanusiaan internasional melalui jalur laut dari Pelabuhan Marmaris, Turki. Namun, armada yang mereka tumpangi dilaporkan diintercept militer Israel sebelum tiba di wilayah Gaza.
Sutrawati, ibu kandung Andi Angga mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan putra sulungnya itu pada Senin (18/5/2026) sekitar pukul 15.00 WITA melalui WhatsApp.
“Jam tiga sore kemarin itu masih jawab WhatsApp saya. Setelah itu saya bilang, ‘Kakak, bunda sangat khawatir, kakak hati-hati di sana. Banyak doa, istighfar terus’. Tapi habis itu sudah tidak ada lagi jawabannya,” kata Sutrawati kepada wartawan di Makassar, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, sejak dini hari ia sudah memiliki firasat buruk terkait kondisi anaknya. Kecurigaan itu semakin kuat ketika pesan yang dikirim hanya menunjukkan tanda centang satu.
“Subuh-subuh saya bangun sudah ada firasat. Makanya waktu lihat WhatsApp-nya cuma centang satu, saya langsung khawatir sekali,” katanya.
Kekhawatiran Sutrawati rupanya pernah diantisipasi oleh Andi Angga. Sebelum komunikasi terputus, relawan kemanusiaan tersebut sempat menitip pesan kepada adik perempuannya.
“Nanti sampaikan ke bunda ya, kalau sudah tidak bisa dihubungi berarti saya sudah buang HP ke laut,” tutur Sutrawati menirukan pesan anaknya.
Tak lama berselang, video intersepsi kapal relawan oleh militer Israel mulai beredar di media sosial. Sejak saat itu, Sutrawati meyakini anaknya termasuk dalam rombongan relawan yang ditahan.
“Tiba-tiba muncul video itu. Saya langsung bilang, ya Allah, ini anakku sudah diculik sama zionis Israel,” ucapnya.
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Andi Angga berangkat bersama relawan internasional membawa bantuan obat-obatan dan kebutuhan pokok bagi warga Palestina di Gaza. Armada pelayaran tersebut disebut terdiri dari puluhan kapal.
“Anak saya itu berangkat lewat jalur laut dari Turki. Infonya ada 56 kapal. Sebelum sampai sekitar 250 mil dari laut itu, mereka diintercept sama zionis Israel,” jelasnya.
Sutrawati mengaku sempat melarang putranya mengikuti misi tersebut. Namun, ia memahami keputusan Andi Angga yang dikenal memiliki kepedulian sosial tinggi.
“Dia bilang ini panggilan hati saya. Saya tahu kalau sudah panggilan hatinya, saya tidak bisa melawan,” katanya.
Atas peristiwa itu, pihak keluarga berharap pemerintah Indonesia dapat segera membantu proses pembebasan Andi Angga dan relawan lainnya yang diduga ditahan.
“Anak saya bukan teroris. Anak saya itu aktivis kemanusiaan. Dia cuma bawa obat dan kebutuhan untuk Palestina yang lagi kelaparan,” tegas Sutrawati.
Ia juga mengaku hingga kini belum menerima komunikasi langsung dari pemerintah terkait kondisi anaknya. Meski demikian, pihak lembaga kemanusiaan Rumah Zakat disebut terus memberikan pendampingan dan informasi perkembangan situasi kepada keluarga.
“Saya berharap anak saya kembali sehat selamat tanpa kekurangan apa pun. Pemerintah tolong bantu anak saya, selamatkan anak saya,” pungkasnya. (**)










