RUANG.NEWS MAKASSAR – Anggota DPRD Sulawesi Selatan, Yeni Rahman, mendorong optimalisasi fungsi Perpustakaan Ibu dan Anak di Makassar agar tidak sekadar menjadi ruang baca, tetapi juga berkembang sebagai inkubator potensi keluarga dan pusat eksplorasi kreativitas anak.
Hal tersebut disampaikan Yeni Rahman usai kegiatan Pengawasan APBD 2026 di Jalan Lanto Daeng Pasewang, Makassar, Rabu (21/5/2026).
Menurut Yeni, kondisi dan atmosfer perpustakaan saat ini sudah cukup baik dan menunjukkan perkembangan positif.
Tingginya angka kunjungan masyarakat dinilai menjadi indikator meningkatnya minat literasi keluarga di Makassar.
Meski demikian, ia menilai pengelola perlu melakukan sejumlah pembenahan strategis agar layanan perpustakaan semakin optimal dan inklusif.
Salah satu poin utama yang disoroti yakni penyesuaian koleksi bahan bacaan sesuai segmentasi pengunjung, khususnya ibu dan anak.
Ia berharap perpustakaan menghadirkan lebih banyak buku bertema pola asuh anak, pendidikan keluarga, serta bacaan ringan yang edukatif dan menghibur.
“Tempat ini juga penting sebagai sarana literasi bagi mahasiswa. Namun akan lebih baik jika koleksinya lebih tematik, seperti buku parenting dan bacaan ringan yang menghibur sekaligus mengedukasi bagi kaum ibu,” ujar Yeni.
Jadi Ruang Pengembangan Aktivitas Anak
Selain memperkuat fungsi literasi, Perpustakaan Ibu dan Anak juga didorong menjadi ruang pengembangan kreativitas anak.
Yeni menilai perpustakaan perlu menghadirkan program interaktif yang mampu mendukung tumbuh kembang anak sejak dini.
Beberapa kegiatan yang diusulkan antara lain kelas menggambar dan melukis, aktivitas mewarnai bersama, hingga permainan motorik dan kreativitas lainnya.
“Perpustakaan jangan hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang eksplorasi bakat dan potensi anak,” katanya.
Yeni juga menyoroti peran ibu yang dinilai masih sebatas pendamping saat mengantar anak ke perpustakaan.
Menurutnya, fasilitas dan layanan bagi kaum ibu perlu diperkuat agar mereka turut memperoleh manfaat saat mendampingi anak.
Ia berharap perpustakaan menyediakan ruang baca dan program khusus yang relevan dengan kebutuhan perempuan dan keluarga.
Lebih jauh, Yeni menggagas pengembangan layanan inklusif di lingkungan perpustakaan.
Salah satu konsep yang diusulkan yakni menghadirkan ruang konsultasi keluarga atau “klinik inklusif” bagi ibu rumah tangga.
Melalui layanan tersebut, para ibu diharapkan dapat berdiskusi mengenai persoalan keluarga, pola asuh anak, hingga pengembangan kapasitas diri dalam satu ruang terpadu.
“Kalau konsep ini berjalan baik, Perpustakaan Ibu dan Anak bisa menjadi percontohan layanan literasi keluarga yang inklusif di daerah lain,” jelasnya.
Ia menegaskan, penguatan fungsi perpustakaan menjadi langkah penting untuk membangun budaya literasi keluarga sekaligus menciptakan ruang publik yang ramah anak dan perempuan di Kota Makassar.(**)







