Menu ✖

News

Rembug Warga Nahdliyin, Hilmy Ingatkan NU Jangan Jauh dari Persoalan Masyarakat

badge-check

Rembug Warga Nahdliyin, Hilmy Ingatkan NU Jangan Jauh dari Persoalan Masyarakat Perbesar

MAKASSAR – Pembina Institut Riset Keaswajaan UIM Al Gazali, K.H. Hilmy Ali Yafie, mengingatkan pentingnya Nahdlatul Ulama (NU) untuk kembali meneguhkan jati dirinya sebagai organisasi yang lahir dari dan untuk kepentingan masyarakat.

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Rembug Warga Nahdliyin bertema “Menata Hidmah, Menyambut Masa Depan Nahdlatul Ulama” yang digelar di Gedung PWNU Sulawesi Selatan, Senin (15/6/2026).

Dalam pemaparannya, Hilmy menjelaskan bahwa sejarah berdirinya NU tidak terlepas dari respons para ulama terhadap berbagai persoalan sosial dan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya adalah munculnya paham puritan yang dinilai cenderung memandang persoalan secara hitam putih dan kurang menghargai perbedaan.

“NU hadir sebagai jawaban atas persoalan masyarakat dengan membangun fondasi keberagamaan yang menghargai perbedaan dan tetap berpegang pada tradisi keilmuan yang moderat,” ujarnya.

Menurutnya, selain merespons dinamika pemikiran keagamaan, NU juga lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai bentuk diskriminasi pada masa penjajahan, termasuk di bidang pendidikan dan perekonomian. Semangat itulah yang kemudian menyebar ke berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan.

Hilmy menilai karakter utama NU sejak awal adalah berpijak pada realitas kehidupan masyarakat, bukan sekadar melihat persoalan dari kalangan elite. Namun, ia mengaku muncul keresahan karena organisasi tersebut dinilai mulai menjauh dari persoalan-persoalan riil yang dihadapi warga.

“Sekarang banyak persoalan ekonomi masyarakat, sumber daya yang diambil alih, hingga privatisasi yang berdampak pada rakyat, tetapi hal-hal seperti itu belum menjadi pembahasan serius di kalangan elite NU,” katanya.

Karena itu, ia mendorong generasi muda Nahdliyin untuk kembali mempelajari sejarah lahirnya NU agar memahami bahwa organisasi tersebut dibangun untuk menjaga dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Kalau NU ingin tetap eksis, maka harus tetap bersama rakyat dan jamaah, membicarakan serta menyuarakan kepentingan-kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa apabila NU tidak kembali kepada akar perjuangannya, organisasi tersebut berpotensi kehilangan kedekatan dengan masyarakat. Meski tradisi-tradisi keagamaan seperti berzanji dan qunut masih akan tetap hidup, menurutnya masyarakat bisa saja tidak lagi menjadikan NU sebagai rujukan dalam menyelesaikan persoalan sosial.

“Tradisinya mungkin tetap hidup, tetapi sebagai organisasi bisa saja ditinggalkan jika tidak kembali pada persoalan-persoalan nyata yang dihadapi masyarakat,” pungkasnya. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

MA Kabulkan Permohonan DPRD Gowa soal Pemberhentian Husniah Talenrang

2 Okt 2026 - 22:58 WITA

MA Kabulkan Permohonan DPRD Gowa soal Pemberhentian Husniah Talenrang

Diduga Tertembak, Polisi Selidiki Kematian Remaja dalam Tawuran di Tallo Makassar

28 Sep 2026 - 01:35 WITA

Diduga Tertembak, Polisi Selidiki Kematian Remaja dalam Tawuran di Tallo Makassar

Soroti Penetapan Tersangka, Kuasa Hukum Bupati Gowa Siapkan Praperadilan

27 Sep 2026 - 00:08 WITA

Soroti Penetapan Tersangka, Kuasa Hukum Bupati Gowa Siapkan Praperadilan

Husniah Talenrang Jadi Tersangka, Jufri Rahman Ungkap Mekanisme Plt Bupati

26 Sep 2026 - 00:05 WITA

Husniah Talenrang Jadi Tersangka, Jufri Rahman Ungkap Mekanisme Plt Bupati

Husnia Talenrang Hadiri Agenda Kementan Saat Rujab dan Kantor Bupati Gowa Digeledah

22 Sep 2026 - 01:39 WITA

Husnia Talenrang Hadiri Agenda Kementan Saat Rujab dan Kantor Bupati Gowa Digeledah
Trending di News