RUANG.NEWS SIDRAP — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mengusung pengembangan industri tepung beras sebagai proyek investasi unggulan dalam verifikasi lapangan South Sulawesi Investment Challenge (SSIC) 2026, Rabu (22/7/2026).
Proyek tersebut menjadi strategi hilirisasi komoditas beras untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus menarik minat investor nasional maupun internasional.
Verifikasi lapangan berlangsung di Ruang Kerja Bupati Sidrap.
Tim verifikasi dipimpin Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Oki Hermansyah, bersama jajaran serta perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Sementara itu, jajaran Pemkab Sidrap dipimpin Sekretaris Daerah Andi Rahmat Saleh yang didampingi Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Andi Nirwan, serta dihadiri sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan pejabat terkait.
Dalam sambutannya, Andi Rahmat Saleh menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang terus mendampingi daerah dalam meningkatkan kualitas proyek investasi.
“Bank Indonesia tidak henti-hentinya merangkul dan mendorong daerah-daerah yang memiliki potensi besar untuk melihat peluang pengembangan investasi. Bagi kami di Kabupaten Sidrap, langkah strategis ini menjadi motivasi besar untuk terus memajukan daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Sidrap merupakan salah satu lumbung pangan nasional dengan ekosistem pertanian yang telah berkembang dari hulu hingga hilir.
Daerah ini didukung sekitar 180 pabrik penggilingan beras, hampir separuh di antaranya telah menggunakan teknologi modern yang mampu menghasilkan beras sesuai kebutuhan pasar, baik kelas medium maupun premium.
“Di mana pun di Sulawesi, ketika ditanya asal berasnya, jawabannya hampir selalu Sidrap. Keunggulan teknologi pengolahan yang kami miliki memungkinkan kualitas beras disesuaikan dengan kebutuhan pasar,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Sidrap mencapai lebih dari 336 ribu ton per tahun, sedangkan konsumsi masyarakat sekitar 30 ribu ton per tahun.
Surplus produksi tersebut dinilai menjadi peluang besar untuk memperluas hilirisasi sektor pertanian.
Andi Rahmat Saleh mengungkapkan, proses penggilingan beras menghasilkan sekitar 5 hingga 10 persen beras patah (broken rice) yang berpotensi diolah menjadi tepung beras.
“Ini merupakan potensi yang sangat besar untuk menghadirkan industri pengolahan tepung beras di Sidrap,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan industri tepung beras diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah, memperluas pasar produk turunan beras, sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Selain industri tepung beras, Pemkab Sidrap juga menawarkan sejumlah peluang investasi strategis lainnya. Di sektor peternakan, Sidrap memiliki sekitar lima juta ekor ayam petelur dengan tingkat produksi sekitar 80 persen per hari yang dikelola menggunakan sistem closed house modern.
Sementara itu, di sektor energi baru terbarukan, pemerintah daerah mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas hingga 200 megawatt (MW) serta pengembangan tahap kedua Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
“Prinsipnya kami sangat terbuka untuk bekerja sama dengan pihak yang serius berinvestasi dan mendukung hilirisasi di Sidrap,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Sidrap, Herwin, mengungkapkan hasil peninjauan Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum yang menyebut Sidrap sebagai satu-satunya daerah dari sembilan kabupaten/kota di kawasan Teluk Bone yang memiliki tiga potensi strategis sekaligus, yakni pangan, energi, dan air.
Menurut Herwin, ketiga sektor tersebut telah diintegrasikan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sidrap sehingga menjadi modal penting dalam mendorong investasi sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional.(***)







