RUANG.NEWS, Makassar – Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) melalui Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) menerima dua kantong jenazah diduga korban tenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa di Perairan Kepulauan Selayar, pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 05.00 Wita.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabiddokkes) Polda Sulsel, Kombes Pol.dr. Muhammad Haris mengatakan bahwa pada Rabu (22/7) padi tadi, Tim DVI Biddokkes menerima dua kantong jenazah dari Basarnas Makassar yang telah diberi label PMB 01 dan PMB 02. Kedua jenazah tersebut selanjutnya dibawa ke Instalasi Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk dilakukan proses identifikasi.
“Kami masih menunggu proses identifikasi. Dalam pelaksanaannya, kami mendapat dukungan dari Tim Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin,” kata dr. Muhammad Haris kepada wartawan di Rs. Bhayangkara Makassar, Rabu (22/7).
Sementara itu, Dr. dr. Hj. Annisa Anwar Muthaher selaku Tim Forensik Fakultas Kedokteran (FK) Unhas menyampaikan bahwa kondisi jenazah yang telah berada di laut selama kurang lebih tujuh hari memerlukan pemeriksaan mendalam dan waktu yang cukup panjang.
“Untuk proses identifikasi, kami akan melakukan koordinasi lebih lanjut. Mengingat kondisi jenazah, diperlukan pemeriksaan penunjang seperti DNA yang membutuhkan waktu dalam proses laboratorium,” jelasnya.
Polda Sulsel menegaskan bahwa seluruh proses penanganan baik pencarian korban maupun penyelidikan hukum akan terus dilakukan secara maksimal dan profesional, serta mengedepankan prinsip transparansi kepada masyarakat.
Diberitakan sebelumnya, Operasi pencarian korban tenggelamnya KM Nurul Salsa resmi diperpanjang selama tiga hari setelah Tim SAR Gabungan kembali menemukan satu jenazah yang diduga merupakan korban kecelakaan kapal tersebut pada hari ketujuh operasi, Selasa (21/7/2026).
Penemuan jenazah pada petang hari itu menambah jumlah korban yang ditemukan pada hari ketujuh menjadi dua orang. Sebelumnya, satu jenazah juga ditemukan pada siang hari di sekitar Pulau Pamulikang.
Jenazah terbaru ditemukan di perairan sebelah timur Pulau Sanana Besar setelah Kantor Pencarian dan Pertolongan Makassar menerima laporan dari aparat Desa Pulau Matallang.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, mengatakan operasi SAR yang berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) berlangsung selama tujuh hari diputuskan untuk diperpanjang setelah dilakukan evaluasi bersama seluruh unsur SAR dan pemerintah daerah.
“Sesuai SOP, operasi SAR dilaksanakan selama tujuh hari. Namun setelah dilakukan evaluasi bersama dan mempertimbangkan masih adanya korban yang belum ditemukan serta ditemukannya dua jenazah pada hari ketujuh, kami memutuskan untuk memperpanjang operasi SAR selama tiga hari ke depan,” ujar Yudhi, Selasa (21/7).
Menurutnya, selama masa perpanjangan, seluruh unsur SAR yang terlibat akan tetap dikerahkan dengan penyesuaian area pencarian berdasarkan analisis pergerakan arus, angin, serta hasil evaluasi Search and Rescue Maritime Prediction (SARMAP).
“Kami akan tetap mengerahkan alut dari KN SAR Kamajaya, KN SAR Pacitan, KN SAR Puntadewa, RB 202, KRI Marlin 877, KRI Hiu, Boeing 737-200 serta seluruh potensi SAR yang terlibat untuk pencarian ke depan,” katanya.
Basarnas menegaskan proses evakuasi dan identifikasi korban akan terus dilakukan sesuai prosedur, sementara pencarian terhadap korban yang masih dinyatakan hilang akan dilanjutkan hingga masa perpanjangan operasi berakhir. (**)










