OPINI – Di era disrupsi dan derasnya arus ideologi global saat ini, kita seringkali dihadapkan pada pertanyaan mendasar: Ke mana arah gerak organisasi kita? Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan keraguan. Sebagai pengurus Nahdlatul Ulama, jawaban kita sudah final dan tertanam kuat sejak awal berdirinya jam’iyyah ini, yaitu pada Muqaddimah Qanun Asasi yang dirumuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Salah satu kutipan paling menggetarkan dalam Qanun Asasi—sebagaimana termuat dalam Seruan Peradaban yang kita hidupkan kembali saat ini—mengajak seluruh umat Islam, dari para ulama hingga rakyat jelata, dari yang kaya hingga yang miskin, untuk bergabung dalam Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Ada tiga pesan kunci dalam seruan tersebut yang menurut saya, sebagai representasi LPTNU di Sulawesi Selatan, sangat fundamental dan harus menjadi panduan kita hari ini:
1. Fondasi Cinta dan Ikatan Jiwa-Raga
Kutipan tersebut berbunyi: “…Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu dan dengan ikatan jiwa raga.”
Ini adalah seruan untuk berorganisasi dengan hati. Hadratussyaikh mengajarkan bahwa NU bukan sekadar kendaraan politik atau alat untuk mencapai tujuan pragmatis. NU adalah ikatan ruhani, sebuah keluarga besar yang dipersatukan oleh cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan para ulama, serta kasih sayang sesama Muslim. Jika fondasi ini rapuh, maka segala program kerja organisasi—termasuk di LPTNU—hanya akan menjadi aktivitas formalitas belaka. Kekuatan NU terletak pada ukhuwah-nya yang tulus.
2. Pembeda antara yang Haq dan Bathil
Pesan yang lebih tajam dan penuh peringatan tertulis selanjutnya: “Organisasi ini terasa manis di mulut orang-orang yang baik, tapi terasa sesak di tenggorokan orang-orang yang jahat.”
Qanun Asasi menetapkan standar moral dan etika yang tinggi. NU harus menjadi wadah bagi perjuangan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan umat. Ini adalah filter sekaligus benteng. Orang-orang yang memiliki niat buruk, ingin memecah belah, atau menunggangi organisasi untuk kepentingan pribadi yang merugikan, tidak akan pernah merasa nyaman di dalam NU. Sebaliknya, mereka akan merasa terpinggirkan dengan sendirinya oleh spirit kesucian tujuan para pendirinya. LPTNU, dalam hal ini, memiliki tugas berat untuk memastikan institusi pendidikan di bawah naungannya mencetak generasi yang memiliki komitmen moral yang sama.
3. Metode Pendidikan dan Dakwah yang Menyelamatkan
Di bagian akhir kutipan, kita diajarkan metode ber-NU: “…saling menasihati dan bekerja sama dengan baik melalui petuah yang menyembuhkan, dakwah yang menyelamatkan, dan argumen yang kuat.”
Inilah inti dari Manhaj dan Ruh Peradaban NU sejak awal. Hadratussyaikh tidak mengajarkan kita untuk berdakwah dengan kekerasan, cacian, atau ujaran kebencian. Dakwah NU adalah dakwah yang menyembuhkan dan menyelamatkan—dakwah yang menyejukkan hati, merangkul, dan memberikan solusi, bukan justru menciptakan ketakutan dan perpecahan. Di LPTNU, prinsip ini harus diterjemahkan ke dalam kurikulum pendidikan, di mana kita mengedepankan pemikiran moderat, inklusif, dan didukung dengan landasan argumen keislaman dan keilmuan yang kokoh.
Relevansi bagi LPTNU Sulawesi Selatan
Sebagai Ketua LPTNU Sul Sel, saya memandang Qanun Asasi ini sebagai piagam yang tidak boleh sekadar dibaca, tetapi harus ‘dihidupkan kembali’—seperti yang ditekankan dalam gambar seruan tersebut. Di abad kedua NU ini, tugas kita di ranah pendidikan tinggi sangat menantang.
Implementasi Qanun Asasi bagi LPTNU berarti:
Memastikan setiap perguruan tinggi di bawah naungan NU di Sulawesi Selatan menjadi oase pendidikan yang menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat (tawassuth) dan toleran (tasamuh).
Menjaga etika dan integritas akademik, sehingga perguruan tinggi kita menjadi tempat bagi “orang-orang baik” yang mencari ilmu untuk kemaslahatan, bukan tempat bagi ambisi pribadi yang merusak.
Mendorong kolaborasi dan gotong royong antarlembaga pendidikan, menjauhkan persaingan yang tidak sehat, demi kemajuan bersama umat di wilayah Sul Sel.
Dengan menjadikan Qanun Asasi sebagai kompas utama, insya Allah, kita akan terus berjalan di atas manhaj para pendiri NU, dan LPTNU Sulawesi Selatan akan mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun peradaban yang penuh berkah dan kemaslahatan bagi bangsa dan negara.
Penulis
Badruddin Kaddas
(Ketua LPTNU Sulawesi Selatan)






