RUANG.NEWS MAKASSAR – PT PLN (Persero) terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan sejumlah pemangku kepentingan dalam pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya PLN menjaga ketersediaan air dan keandalan pasokan listrik di tengah musim kemarau yang berlangsung di sejumlah wilayah Sulawesi.
Program TMC telah dan terus berjalan di sejumlah lokasi strategis, antara lain PLTA Bakaru, PLTA Malea, dan PLTA Poso.
Dalam pelaksanaannya, PLN berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta pemerintah daerah.
Kepala BPBD Sulawesi Tengah, Darma Metusela, mengatakan keterlibatan aktif pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam mendukung kelancaran operasi TMC.
“Proses koordinasi yang kami lakukan sangat komprehensif. Dari pihak Pemda, kami terus mendampingi dan terlibat langsung sejak tahapan survei, pengkajian lokasi sasaran, hingga pelaksanaan eksekusi di lapangan agar operasi TMC dapat berjalan optimal,” ujar Darma, Kamis (1/10/2026).
Secara operasional, kegiatan TMC telah berlangsung di sejumlah titik, di antaranya Meko dan Tokilo pada 20 September 2026.
Tim melakukan penyemaian awan di lokasi tersebut dengan menyesuaikan pelaksanaan operasi terhadap hasil observasi kondisi atmosfer untuk memaksimalkan potensi pembentukan hujan.
Selain Sulawesi Tengah, PLN juga memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan air di Sulawesi Selatan.
Gubernur Sulawesi Selatan telah meminta dukungan BMKG untuk pelaksanaan TMC guna menjaga keandalan pasokan listrik, terutama karena PLTA Malea memiliki peran strategis dengan kapasitas pembangkitan mencapai 90 MW.
PLTA Malea bergantung pada ketersediaan debit air Sungai Saddang. Karena itu, pelaksanaan TMC menyasar daerah tangkapan air atau catchment area sungai tersebut selama periode Agustus hingga September 2026.
Upaya tersebut bertujuan mempertahankan ketersediaan air sehingga operasional PLTA Malea tetap berjalan selama musim kemarau.
Sementara itu, di PLTA Bakaru, PLN terus mematangkan persiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mamasa.
Langkah ini bertujuan menjaga ketersediaan debit air untuk mendukung operasional pembangkit berkapasitas 126 MW.
Dalam rencana pelaksanaannya, OMC di PLTA Bakaru akan memanfaatkan teknologi pesawat nirawak atau drone.
PLN menyiapkan dua lokasi operasional, yakni Bandara Sumarorong dan Puncak Pasir, berdasarkan kajian kelayakan BMKG.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengatakan sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam menjalankan program tersebut.
“Teknologi Modifikasi Cuaca ini adalah bentuk ikhtiar nyata dalam mitigasi yang kami lakukan bersama Pemda dan BMKG untuk menjaga dan memulihkan debit air di sejumlah lokasi strategis, seperti PLTA Malea dan PLTA Bakaru,” ujar Edyansyah.
Menurut dia, PLN berharap langkah tersebut dapat menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat meski musim kemarau berlangsung panjang.
“Kami berharap upaya ini dapat memastikan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat tetap terjaga, meskipun musim kemarau berlangsung panjang,” katanya.
PLN terus mengoptimalkan langkah mitigasi melalui penguatan koordinasi dengan BMKG, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen PLN menjaga kesinambungan operasional PLTA sekaligus memastikan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah Sulawesi.(***)







