Menu ✖

OPINI

SATU TAHUN SAR–KANAAH

badge-check

Dr. Mansur, M.Ag (Rektor IAI DDI Sidrap)/Foto:IST Perbesar

Dr. Mansur, M.Ag (Rektor IAI DDI Sidrap)/Foto:IST

OPINI
Oleh: Dr. Mansur, M.Ag (Rektor IAI DDI Sidrap)

Masih segar dalam ingatan masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang momentum pergantian kepemimpinan daerah yang terasa baru saja terjadi. Padahal, satu tahun telah berlalu sejak estafet kepemimpinan itu dimulai.

Waktu yang terasa singkat tersebut tidak lepas dari kuatnya gaung jargon yang diusung, yakni “SARO MASE SIDENRENG RAPPANG” — sebuah ungkapan yang dalam makna kultural Bugis berarti bekerja dengan tulus, ikhlas tanpa pamrih, sekaligus mencerminkan kerja keras dan pengabdian total bagi masyarakat.

Di kalangan masyarakat dan jajaran pemerintahan Kabupaten Sidenreng Rappang, kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati periode 2025–2030, Syaharuddin Alrif–Nur Kanaah (SAR-Kanaah), dinilai konsisten mengimplementasikan konsep “SARO MASE”.

Kepemimpinan mereka tidak sekadar administratif, melainkan hadir langsung di tengah masyarakat. Keduanya aktif turun ke sawah bersama petani, mengunjungi kebun dan peternakan, hingga terlibat dalam kerja bakti di pasar dan lapangan olahraga.

Semangat kolaboratif ini menegaskan bahwa kesejahteraan tidak mungkin dicapai tanpa kerja bersama antara pemerintah dan rakyat.

Secara konseptual, visi SAR-Kanaah juga memiliki landasan religius yang kuat. Prinsip tersebut merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 96: “Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi…” Ayat ini menjadi fondasi teologis bahwa iman dan takwa merupakan prasyarat hadirnya keberkahan (barakka) dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Kepemimpinan SAR-Kanaah dapat dinilai cerdas dalam memadukan kearifan lokal Bugis dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Perpaduan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi mampu menggerakkan perubahan pola pikir masyarakat.

Persepsi-persepsi negatif yang sempat berkembang sebelum masa kepemimpinan mereka, perlahan berubah menjadi optimisme kolektif.

Dalam berbagai kesempatan, SAR-Kanaah menegaskan bahwa keberkahan akan hadir bagi masyarakat yang beriman, bertakwa, dan bekerja keras.

Upaya mendekatkan masyarakat kepada nilai-nilai spiritual juga diwujudkan melalui gerakan keagamaan rutin, seperti pembacaan Al-Qur’an, ceramah, dan kajian agama setiap malam Jumat.

Gerakan ini bertujuan membangun masyarakat yang religius dan berkarakter, sehingga kesadaran untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah tumbuh secara alami.

Dalam perspektif mereka, dimensi spiritual dan pembangunan ekonomi merupakan dua sisi yang saling menguatkan.

Dari sisi pembangunan ekonomi, sejumlah capaian konkret terlihat dalam satu tahun pertama kepemimpinan.

Harga gabah kering panen yang sebelumnya berada di kisaran Rp4.800 per kilogram (2024) meningkat menjadi Rp6.800–7.000 per kilogram (2025).

Produksi peternak ayam petelur juga mengalami peningkatan, dengan harga telur yang relatif stabil berkat fasilitasi pemerintah daerah dalam menyinergikan kepentingan peternak dan pedagang.

Stabilitas stok pangan, khususnya beras dan telur, semakin mengukuhkan posisi Sidenreng Rappang sebagai salah satu lumbung pangan nasional yang menyuplai kebutuhan kawasan timur Indonesia.

Dampak dari kebijakan tersebut tercermin pada penurunan angka kemiskinan yang signifikan, bahkan tercatat sebagai yang terendah di Sulawesi Selatan.

Capaian ini menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif—memadukan nilai budaya, agama, dan kebijakan ekonomi—mampu menghasilkan perubahan yang terukur.

Secara akademik dan tata kelola pemerintahan, satu tahun kepemimpinan SAR-Kanaah dapat dinilai progresif dan melampaui sejumlah target awal.

Tingkat kepuasan publik yang mencapai 87,7 persen menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah semakin mengakar.

Satu tahun mungkin waktu yang singkat dalam siklus pembangunan, namun cukup untuk menunjukkan arah, komitmen, dan fondasi perubahan.

Jika konsistensi ini terus terjaga, maka “SARO MASE SIDENRENG RAPPANG” bukan sekadar slogan, melainkan gerakan kolektif menuju keberkahan dan kesejahteraan yang berkelanjutan.(**)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Digitalisasi Pelayanan Publik Dorong Pengembangan Kewirausahaan UMKM

28 Sep 2026 - 16:56 WITA

Digitalisasi Pelayanan Publik Dorong Pengembangan Kewirausahaan UMKM

Dari Pemilihan Ketua OSIS ke Laboratorium Demokrasi Sulawesi Selatan

10 Sep 2026 - 19:45 WITA

Dari Pemilihan Ketua OSIS ke Laboratorium Demokrasi Sulawesi Selatan

Qanun Asasi NU: Lebih dari Sekadar Aturan Dasar, Ia Adalah Kompas Peradaban

28 Agu 2026 - 21:02 WITA

Qanun Asasi NU: Lebih dari Sekadar Aturan Dasar, Ia Adalah Kompas Peradaban

Menata Golkar Sulsel Menuju Pemilu 2029

18 Jul 2026 - 13:15 WITA

Menata Golkar Sulsel Menuju Pemilu 2029

SUMMIT DI DEPAN MATA: Ketika Ego Harus Tunduk pada Gunung Elbrus

17 Jul 2026 - 13:24 WITA

SUMMIT DI DEPAN MATA: Ketika Ego Harus Tunduk pada Gunung Elbrus
Trending di OPINI