RUANG.NEWS MAKASSAR – Mantan Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sulawesi Selatan, Mujiburrahman B, resmi meraih gelar doktor pada Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin.
Mujiburrahman, yang akrab disapa Muji, memperoleh gelar doktor setelah melalui proses panjang hingga tahap promosi doktor yang digelar pada Jumat (10/4) di Aula Prof. Syukur Abdullah, Lantai 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin.
Dalam disertasinya, Muji mengangkat judul “Jaringan Aktor: Studi tentang Basis Jaringan Keterpilihan Yasir Machmud sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan pada Pemilu 2024”.
Penelitian tersebut dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Muhammad, S.IP., M.Si dan Ko-Promotor Prof. Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si.

Pada pemaparan promosi doktor, Muji menjelaskan tiga rumusan masalah utama, yakni proses terbentuknya jejaring aktor yang mendukung keterpilihan Yasir Machmud, peran aktor kunci dalam menjaga soliditas jaringan, serta pola jaringan yang terbentuk dalam proses politik tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh dari 18 informan kunci, analisis dokumen, serta digital ethnography. Selanjutnya, data dianalisis melalui metode analisis tematik, pemetaan jaringan, dan pendekatan Actor-Network Theory (ANT).
Muji mengungkapkan bahwa pembentukan jaringan aktor berlangsung melalui enam tahap. Tahap pertama adalah akumulasi modal sosial sebelum 2024 melalui aktivitas bisnis dan yayasan.
“Tahap kedua berupa mobilisasi isu kelangkaan pupuk sebagai pintu masuk mendekati masyarakat,” katanya.
Tahap ketiga adalah pembentukan struktur melalui rekrutmen tim berjenjang di 2.270 tempat pemungutan suara (TPS). Tahap keempat melibatkan integrasi teknologi melalui analitik pemilih dan kampanye digital.
“Tahap kelima berupa koordinasi adaptif melalui 200 titik tatap muka, dan tahap terakhir adalah konsolidasi melalui quick count serta optimalisasi media sosial,” tandasnya.
Dalam jaringan tersebut, Yasir Machmud berperan sebagai figur sentral atau Obligatory Passage Point (OPP) yang mampu mengintegrasikan modal ekonomi, budaya, dan sosial.
“Tokoh adat juga berperan sebagai mediator dalam mentransformasikan nilai-nilai budaya Bugis seperti Siri’ na Pacce, Sipakatau, dan Sipakalebbi ke dalam figur kandidat,” ucapnya.
Selain aktor manusia, penelitian ini juga menyoroti peran aktor non-manusia seperti platform digital, program pupuk gratis, serta nilai budaya sebagai elemen penting dalam membentuk dan memperkuat jaringan politik.
Pola jaringan yang terbentuk dikategorikan sebagai Hybrid Patron-Client Digital Network (HPCDN), yaitu kombinasi antara pola patron-klien tradisional dengan pendekatan digital modern. Jaringan ini memiliki struktur hierarkis namun tetap fleksibel di tingkat lapangan.
Mobilisasi dilakukan melalui kombinasi pendekatan darat dan digital, dengan metode door-to-door di ribuan TPS serta kampanye digital yang masif.
“Stabilitas jaringan diperkuat melalui konsep black boxing, yaitu proses penguatan berulang hingga jaringan menjadi solid,” jelasnya.
Hasilnya, Yasir Machmud berhasil meraih suara terbanyak, yakni 51.437 suara di Daerah Pemilihan VII Kabupaten Bone.
“Keberhasilan ini dinilai tidak semata ditentukan oleh modal finansial, melainkan oleh kemampuan membangun jaringan aktor yang luas, heterogen, dan stabil,” tutur Muji.
Muji menilai strategi utama yang membedakan adalah integrasi teknologi digital dengan program konkret seperti distribusi pupuk gratis, yang menciptakan kedekatan dan ketergantungan fungsional antara pemilih dan kandidat.
Penelitian ini juga menjadi kritik terhadap sistem patron-klien tradisional. Menurutnya, hubungan tersebut kini dapat ditransformasikan menjadi jaringan modern berbasis teknologi dan profesionalisme.
Dari sisi akademik, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui penerapan Actor-Network Theory (ANT) dalam studi politik lokal. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan politik merupakan hasil proses translasi yang melibatkan tahapan problematisasi, interessement, enrollment, dan mobilisasi.
Sebagai kesimpulan, Muji menyatakan bahwa keberhasilan Yasir Machmud menunjukkan adanya pergeseran dalam politik lokal, di mana legitimasi tidak lagi semata ditentukan oleh garis keturunan, tetapi juga oleh kemampuan membangun jaringan berbasis data, teknologi, dan nilai budaya.
Diketahui, Yasir Machmud juga merupakan mantan Ketua KONI Sulawesi Selatan saat Mujiburrahman menjabat sebagai sekretaris.(**)







