MAKASSAR – Konferensi Cabang (Konfercab) XXXIV Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Makassar tidak hanya menjadi forum regenerasi kepemimpinan. Tetapi juga menjadi momentum penegasan komitmen organisasi untuk tetap konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat di tengah berbagai tantangan demokrasi.
Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Konfercab yang berlangsung di Gedung LPTQ Talasalapang, Makassar, Rabu (29/7/2026). Sekretaris Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sulawesi Selatan, Trigosal Ariadi, mengingatkan agar PMII tetap berpihak kepada kepentingan publik.
“PMII tidak didirikan untuk menjadi organisasi yang sekadar mengisi ruang kekuasaan. PMII harus tetap menjadi kekuatan intelektual yang mampu mengoreksi arah kebijakan ketika kekuasaan menjauh dari konstitusi, mengabaikan kepentingan rakyat, atau membatasi ruang demokrasi. Kritik yang dibangun di atas argumentasi, data, dan etika merupakan bagian dari tanggung jawab moral kader,” ujar Trigosal dalam keterangannya.
Ia menegaskan demokrasi membutuhkan organisasi masyarakat sipil yang independen agar mekanisme checks and balances berjalan sehat. Karena itu, kader PMII diminta menjaga jarak kritis terhadap setiap kekuasaan tanpa kehilangan keberpihakan kepada rakyat.
Konfercab XXXIV sendiri resmi menetapkan Ridwan sebagai Formatur Ketua Pengurus Cabang PMII Kota Makassar dan Zahra Muthia Ashilah sebagai Formatur Ketua KOPRI PC PMII Kota Makassar. Penetapan dilakukan melalui sidang pleno sebagai penutup forum permusyawaratan tertinggi organisasi di tingkat cabang.
Forum tersebut sekaligus mengakhiri masa khidmat kepengurusan Hariandi sebagai Ketua PC PMII Kota Makassar dan Nurmila Sari H sebagai Ketua KOPRI PC PMII Kota Makassar periode 2025–2026.
Selain memilih kepemimpinan baru, Konfercab juga membahas laporan pertanggungjawaban pengurus, mengevaluasi proses kaderisasi, serta merumuskan rekomendasi organisasi untuk menjawab dinamika sosial, politik, ekonomi, dan kebangsaan.
Ketua Demisioner PC PMII Kota Makassar, Hariandi, menilai seluruh dinamika yang terjadi selama persidangan merupakan bagian dari proses demokrasi organisasi. Ia mengajak seluruh kader kembali bersatu setelah forum berakhir untuk mengawal agenda perjuangan PMII.
“Konfercab telah selesai dan seluruh proses organisasi telah berjalan sesuai konstitusi. Kini tidak ada lagi ruang bagi fragmentasi. Seluruh kader memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengawal kepemimpinan baru, memperkuat kaderisasi, dan memastikan PMII Kota Makassar tetap menjadi organisasi yang independen, kritis, serta konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat,” katanya.
Dengan terpilihnya kepengurusan baru, PMII Kota Makassar diharapkan mampu memperkuat tradisi intelektual organisasi melalui gerakan yang berbasis riset, advokasi kebijakan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Pesan yang mengemuka sepanjang Konfercab menegaskan bahwa keberadaan PMII harus tetap relevan sebagai organisasi kader yang konsisten mengawal demokrasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat. (*)





