OPINI
Oleh: Asrullah Dimas (Ketua Umum Badko HMI Sulsel)
Hari Raya Idulfitri merupakan salah satu momen paling sakral dalam tradisi Islam yang menandai berakhirnya ibadah puasa di bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi simbol kembalinya manusia kepada fitrah.
Dalam ajaran Islam, Idulfitri memiliki makna mendalam sebagai momentum penyucian diri. Setelah menjalani puasa Ramadan, seorang muslim diharapkan mencapai derajat takwa, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah ayat 183. Idulfitri menjadi titik refleksi atas proses pengendalian diri, kesabaran, dan peningkatan kualitas spiritual.
Tradisi seperti salat Id, zakat fitrah, dan silaturahmi merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai Islam yang merepresentasikan kohesi sosial, pengampunan, dan persaudaraan. Ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” mencerminkan etika rekonsiliasi yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam perspektif ini, Idulfitri merupakan ruang otentik untuk memperbaiki hubungan manusia, baik dengan Tuhan maupun sesama.
Namun, dalam konteks masyarakat kontemporer, Idulfitri tidak hanya berlangsung sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga sebagai ruang sosial yang sarat dengan simbol, representasi, bahkan simulasi. Dalam kerangka ini, pendekatan teoritis Jean Baudrillard menjadi relevan untuk membaca fenomena Idulfitri secara lebih kritis.
Di era digital, Idulfitri tidak hanya dijalani sebagai pengalaman spiritual, tetapi juga sebagai pengalaman yang ditampilkan. Di sinilah konsep simulasi dari Baudrillard menjadi penting. Ia menjelaskan bahwa dalam masyarakat kontemporer, realitas sering kali digantikan oleh representasi atau tanda-tanda yang justru lebih dominan daripada realitas itu sendiri—yang disebut sebagai hiperrealitas.
Dalam konteks Idulfitri, praktik seperti mengunggah foto keluarga, membagikan ucapan digital, atau menampilkan momen kebersamaan di media sosial dapat dipahami sebagai bentuk simulasi sosial. Idulfitri tidak hanya dialami, tetapi juga diproduksi untuk dilihat oleh orang lain.
Ucapan maaf yang dahulu bersifat personal kini sering kali berubah menjadi template yang disebarkan secara massal. Silaturahmi yang dulunya intim pun sebagian berpindah ke ruang virtual. Dalam kondisi ini, batas antara ketulusan dan formalitas menjadi semakin kabur.
Sebagai panggung sosial, Idulfitri juga telah menjadi ruang di mana individu menampilkan identitasnya. Pakaian baru, hidangan khas, hingga dekorasi rumah menjadi simbol status dan ekspresi diri. Hal ini tidak sepenuhnya bertentangan dengan nilai Islam, tetapi ketika orientasinya bergeser menjadi pencitraan, substansi spiritual berpotensi tereduksi.
Dalam kacamata sosiologis, fenomena ini menunjukkan bahwa Idulfitri berfungsi sebagai arena performatif, tempat individu berusaha memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan untuk tampak bahagia, tampak sukses, atau tampak harmonis sering kali menjadikan Idulfitri lebih tentang bagaimana terlihat daripada bagaimana dirasakan.
Kendati demikian, penting untuk tidak melihat simulasi sebagai sesuatu yang sepenuhnya negatif. Dalam beberapa hal, representasi digital justru memperluas jangkauan silaturahmi. Orang-orang yang terpisah jarak tetap dapat saling menyapa dan berbagi kebahagiaan.
Di sinilah terjadi dialektika antara nilai spiritual dan realitas sosial kontemporer. Idulfitri tetap memiliki inti religius yang kuat, tetapi cara manusia mengalaminya telah berubah. Simulasi tidak sepenuhnya menggantikan realitas, melainkan berdampingan dengannya.
Tulisan ini tidak bertujuan untuk meruntuhkan makna Idulfitri, melainkan mengungkap kompleksitasnya. Ia mengajak kita untuk lebih reflektif: apakah kita benar-benar memaknai Idulfitri sebagai momen spiritual, atau sekadar menjalankan ritual sosial?
Dalam perspektif Islam, keikhlasan (ikhlas) dan niat (niyyah) menjadi kunci utama. Simulasi sosial tidak menjadi persoalan selama tidak menghilangkan esensi ibadah. Namun, ketika representasi lebih dominan daripada substansi, maka perlu ada upaya untuk kembali pada nilai-nilai dasar Idulfitri.
Sebagai ruang simulasi sosial, Idulfitri menunjukkan bahwa perayaan keagamaan tidak pernah lepas dari dinamika zaman. Ia merupakan pertemuan antara iman, budaya, dan teknologi. Dalam dunia yang semakin dipenuhi simbol dan representasi, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara yang tampak dan yang hakiki.
Dengan demikian, Idulfitri tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang refleksi kritis: sejauh mana kita sungguh menjalani, dan sejauh mana kita sekadar menampilkan.(**)







