RUANG.NRWS MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mencatat prestasi nasional dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Berdasarkan pengumuman pendanaan PKM Skema Pendanaan Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Unhas menempati peringkat kedua nasional dengan 50 proposal yang lolos pendanaan.
Capaian tersebut mempertegas konsistensi Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi dengan budaya inovasi dan kreativitas mahasiswa terkuat di Indonesia.
Di tengah persaingan yang semakin ketat serta kuota pendanaan yang lebih terbatas, posisi dua besar nasional menjadi indikator kuat kualitas proposal mahasiswa Unhas tetap kompetitif.
Direktur Kemahasiswaan Unhas, Abdullah Sanusi, mengatakan keberhasilan tersebut lahir dari proses pembinaan yang dilakukan secara terstruktur dan berkelanjutan.
“Capaian ini bukan sekadar tentang angka atau peringkat, tetapi mencerminkan kualitas pembinaan mahasiswa. Tahun lalu Unhas meraih peringkat pertama nasional pendanaan PKM, dan tahun ini tetap bertahan di posisi kedua nasional. Ini menunjukkan konsistensi Unhas di jajaran perguruan tinggi terbaik nasional dalam bidang kreativitas dan inovasi mahasiswa,” ujar Abdullah Sanusi.
Pada 2026, Unhas mengajukan 190 proposal PKM ke tingkat nasional. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 proposal atau sekitar 26 persen berhasil memperoleh pendanaan.
Menurut Abdullah, persaingan tahun ini jauh lebih kompetitif karena kualitas proposal dari berbagai perguruan tinggi meningkat, sementara kuota pendanaan semakin terbatas.
“Mampu tetap berada di posisi dua besar nasional tentu menjadi capaian yang membanggakan sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan mahasiswa,” katanya.
Ia menjelaskan, Unhas menerapkan strategi pembinaan yang intensif dan disiplin sejak tahap awal.
Proses dimulai dari sosialisasi untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa, kemudian berlanjut pada bimbingan teknis penyusunan proposal hingga review berkala.
Mahasiswa mendapat pendampingan mulai dari penguatan substansi gagasan, teknik penulisan proposal, hingga penyesuaian format sesuai standar nasional PKM.
Setiap proposal juga melewati proses evaluasi dan revisi berulang agar kualitasnya semakin matang sebelum dikirim ke tingkat nasional.
“Faktor paling menentukan adalah sistem pembinaan yang intensif, disiplin, dan berkelanjutan. Mahasiswa tidak hanya menyusun proposal, tetapi juga mendapat pendampingan secara berkala agar kualitas proposal terus meningkat,” jelasnya.
Selain melibatkan dosen pendamping dan reviewer internal, Unhas juga menggandeng mahasiswa yang pernah lolos PKM maupun Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).
Pola kolaboratif tersebut dinilai efektif membangun ekosistem belajar antarmahasiswa sekaligus meningkatkan kesiapan tim menghadapi seleksi nasional.
Abdullah menegaskan pembinaan tidak berhenti setelah proposal lolos pendanaan.
Seluruh tim akan terus mendapat pendampingan dalam pelaksanaan program, monitoring dan evaluasi, penyusunan laporan, hingga persiapan menuju tahap PKP2 dan PIMNAS.
“Kami berharap seluruh tim dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan maksimal melalui pelaksanaan program yang baik dan menghasilkan luaran berkualitas. Harapan kami, tim-tim ini mampu melangkah hingga PIMNAS sebagai ajang paling bergengsi dalam PKM,” tuturnya.
Unhas juga tetap memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang belum berhasil memperoleh pendanaan.
Menurut Abdullah, keberanian mengikuti kompetisi ilmiah menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas dan pengalaman mahasiswa.
Prestasi PKM 2026 ini sekaligus memperlihatkan konsistensi Unhas dalam menjaga kultur riset dan inovasi mahasiswa di tingkat nasional.
Setelah meraih posisi pertama nasional pada tahun sebelumnya dan kini bertahan di peringkat kedua, Unhas kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan kreativitas mahasiswa Indonesia.(**)







