RUANG.NEWS, Palu – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026) siang, memicu kepanikan warga. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) diserbu masyarakat yang ingin memastikan ketersediaan bahan bakar, sehingga antrean kendaraan mengular di berbagai titik.
Lonjakan kendaraan menuju SPBU terjadi tidak lama setelah gempa dirasakan warga. Kondisi tersebut menyebabkan kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama Kota Palu.
Kapolresta Palu, Kombes Pol Hari Rosena, mengatakan pihaknya langsung turun melakukan pengaturan lalu lintas dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengurai antrean kendaraan.
“Anggota saya sudah koordinasi sama Wali Kota, intinya sementara itu dialihkan alur,” kata Hari Rosena kepada wartawan, Selasa (16/6/2026) sore.
Untuk menghindari penumpukan kendaraan di SPBU, kepolisian menerapkan pembatasan pengisian BBM. Kendaraan roda empat dibatasi maksimal 10 liter, sedangkan sepeda motor maksimal 3 liter.
“Sudah saya arahkan para Kapolsek itu untuk mobil umum jatahnya 10 liter, motor 3 liter,” sambungnya.
Menurut Hari, kebijakan tersebut bersifat sementara sebagai langkah darurat guna menjaga distribusi BBM tetap berjalan dan mencegah kemacetan yang lebih parah di sekitar SPBU.
Selain melakukan rekayasa lalu lintas, polisi juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan untuk memantau perkembangan situasi pascagempa.
“Kalau ada yang tidak sesuai, langsung koordinasi sama para Kapolsek,” tambahnya.
Hingga saat ini, polisi belum menerima laporan adanya korban jiwa maupun korban luka akibat gempa tersebut. Namun, proses pendataan masih terus dilakukan di wilayah terdampak.
“Kita lihat apakah ini ada korban atau enggak, sementara masih belum,” kata Hari.
Sementara itu, aktivitas warga di sejumlah SPBU Kota Palu masih terpantau meningkat. Aparat kepolisian terus melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas guna menjaga situasi tetap kondusif pascagempa. (**)








