RUANG.NEWS MAKASSAR – Ketua Umum Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Makassar, Hariandi, mengajak organisasi mahasiswa dan kelompok aktivis memperkuat persatuan gerakan dalam mengawal demokrasi dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan Hariandi saat menjadi penanggap dalam dialog akbar yang digelar Forum Komunikasi Pemuda (FKP) Maluku Utara Makassar bertajuk “Menggugat Kebijakan Populis dan Krisis Demokrasi Era Prabowo-Gibran” di Kopi Aspirasi, Makassar, Ahad (14/6).
Dalam forum tersebut, Hariandi menilai tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan sila kelima Pancasila tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia belum terwujud secara optimal.
Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi saat ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara cita-cita konstitusi dan realitas yang dihadapi masyarakat.
“Alasan bernegara kita merujuk pada mandat konstitusi di alinea keempat tentang tujuan bernegara dan mewujudkan Pancasila sila kelima. Namun menurut kami, hal itu masih belum tercapai secara maksimal sehingga melahirkan berbagai persoalan multidimensional,” ujar Hariandi.
Ia menjelaskan, persoalan tersebut mencakup sektor ekonomi, sosial, hingga politik nasional. Hariandi menilai pengaruh kapitalisme masih cukup kuat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga memunculkan praktik komersialisasi yang semakin meluas.
“Masalah ekonomi, sosial, bahkan konfigurasi politik kita masih banyak dipengaruhi oleh kapitalisme yang justru mengomersialisasi hampir seluruh dimensi kehidupan,” katanya.
Selain menyoroti kondisi nasional, Hariandi juga mengajak seluruh elemen gerakan mahasiswa untuk memperkuat konsolidasi dan membangun gerakan bersama.
Ia secara khusus mendorong organisasi yang tergabung dalam Cipayung Plus Kota Makassar serta para aktivis untuk menyatukan langkah dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Menurut Hariandi, gerakan mahasiswa yang berjalan sendiri-sendiri berpotensi melemahkan daya dorong perubahan sosial dan politik. Karena itu, ia menilai kolaborasi lintas organisasi menjadi kebutuhan penting di tengah berbagai tantangan demokrasi saat ini.
“Saya menantang seluruh Cipayung Plus Kota Makassar sekaligus aktivis yang ada di forum ini untuk melakukan gerakan kolektif di titik aksi yang sama, sehingga tidak ada lagi gerakan yang terfragmentasi,” tegasnya.
Hariandi berharap sinergi antarorganisasi kepemudaan dan mahasiswa dapat menjadi kekuatan bersama dalam mengawal demokrasi, mengkritisi kebijakan publik, serta memperjuangkan agenda perubahan yang berpihak kepada masyarakat.
Dialog akbar yang digelar FKP Maluku Utara Makassar tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan aktivis untuk membahas isu kebijakan publik, kondisi demokrasi, serta perkembangan sosial-politik nasional pada era pemerintahan Prabowo-Gibran.(**)







