RUANG.News, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,65 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026. Kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan mencapai 25,11 persen.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan intermediasi perbankan kembali menguat, dengan ketahanan industri perbankan yang tetap terjaga.
“(Intermediasi perbankan) kembali meningkat, disertai dengan ketahanan perbankan yang tetap terjaga,” ujar Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9/2026).
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,11 persen yoy. Selanjutnya, kredit modal kerja tumbuh 11,45 persen dan kredit konsumsi 5,07 persen.
Menurut Destry, ruang penyaluran kredit masih terbuka karena minat perbankan dalam menyalurkan kredit atau lending appetite masih longgar.
Kondisi tersebut turut didukung pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 10,94 persen yoy pada Agustus 2026.
“Minat penyaluran kredit atau lending appetite juga masih longgar, serta didukung pertumbuhan DPK yang mencapai 10,94 persen yoy,” katanya.
Insentif KLM Capai Rp461,2 Triliun
Untuk memperkuat intermediasi perbankan, BI terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif, salah satunya melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
Hingga minggu pertama September 2026, insentif KLM yang diperoleh perbankan mencapai Rp461,2 triliun.
Dari jumlah tersebut, Rp338,2 triliun disalurkan melalui KLM Financing Channel, sedangkan Rp123 triliun melalui KLM Pendalaman Pasar Uang.
“Hingga minggu pertama September, insentif KLM diperoleh bank Rp461,2 triliun,”ujar Destry.
Nilai tersebut meningkat dibandingkan posisi Agustus 2026 yang tercatat sebesar Rp446,5 triliun.
Sejak 1 September 2026, BI menerapkan skema baru KLM yang lebih selektif dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan komposisi portofolio masing-masing bank.
Kebijakan tersebut diarahkan agar insentif likuiditas lebih efektif mendorong penyaluran kredit, bukan sekadar meningkatkan kepemilikan surat berharga.
Dengan pertumbuhan kredit yang masih kuat, BI memperkirakan penyaluran kredit perbankan sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 8-12 persen.
Ketahanan Perbankan Tetap Terjaga
Dari sisi ketahanan industri, perbankan nasional masih memiliki bantalan modal yang kuat. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 23,84 persen pada Juli 2026.
Kualitas kredit juga masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 2,10 persen secara bruto dan 0,81 persen secara neto.
Sementara itu, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di level 23,04 persen pada Agustus 2026.
Transaksi Digital Tembus 6,11 Miliar
Di sisi lain, transaksi ekonomi dan keuangan digital terus menunjukkan pertumbuhan.
BI mencatat volume transaksi digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026 atau tumbuh 40,36 persen yoy.
Pertumbuhan tersebut ditopang transaksi mobile banking, termasuk QRIS, yang tumbuh 47,08 persen. Khusus transaksi QRIS, pertumbuhannya mencapai 67,22 persen yoy.
“Transaksi ekonomi dan keuangan digital pada Agustus tetap tumbuh,” kata Destry.
Sementara itu, BI-FAST telah memproses 549 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp1.346 triliun sepanjang Agustus 2026.
BI memastikan kebijakan makroprudensial yang akomodatif akan terus dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan. (*)







