RUANG.NEWS MAKASSAR – Kenaikan harga tiket pesawat umroh yang mencapai Rp6,5 juta per orang memicu keresahan pelaku travel dan calon jemaah. Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Sulampua mendesak pemerintah segera turun tangan untuk mencari solusi.
Ketua AMPHURI Sulampua, M Azhar, mengatakan lonjakan harga tiket tersebut sangat memberatkan masyarakat, khususnya jemaah kelas menengah ke bawah.
Sebelumnya, harga tiket pesawat umroh berada di kisaran Rp15,5 juta hingga Rp15,8 juta. Namun, kini harga melonjak hingga Rp21,5 juta per orang.
“Ini angka yang sangat besar. Beban itu akhirnya ditanggung pelaku PPIU dan jemaah. Ketika kami sampaikan ke jemaah, banyak yang menolak karena merasa sudah membayar uang muka,” ujar Azhar, Rabu (20/5/2026).
Azhar menjelaskan, sehari setelah maskapai menerbitkan surat kenaikan harga pada tanggal 6 Mei, AMPHURI langsung mengirim surat keberatan pada 7 Mei. Dalam surat tersebut, asosiasi meminta agar deposit atau uang muka yang telah dibayarkan travel dan jemaah tidak terkena penyesuaian harga baru.
Selain itu, asosiasi juga meminta maskapai menahan harga tiket di angka maksimal Rp16 juta. Namun hingga lima hari setelah surat dikirim, pihak maskapai belum memberikan respons dan tetap memberlakukan tarif baru.
“Kami akhirnya sepakat menarik deposit dan melakukan boikot. Ada lima asosiasi yang bergabung, yaitu AMPHURI, Kasthuri, Asphirasi, AMPUH, dan Aspuri,” katanya.
Menurut Azhar, sebagian besar travel kini telah menarik deposit dari maskapai dan mengembalikan dana milik jemaah yang memilih membatalkan keberangkatan karena tidak mampu menambah biaya umroh.
Di tengah kondisi tersebut, asosiasi berupaya mencari alternatif penerbangan dengan harga lebih terjangkau. Namun, kapasitas kursi penerbangan alternatif masih sangat terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan jemaah, terutama pada musim keberangkatan pasca haji.
“Kami memang menemukan alternatif penerbangan yang lebih murah, termasuk penerbangan transit. Tapi jumlah kursinya terbatas dan belum bisa mengakomodasi seluruh kebutuhan jemaah,” jelasnya.
Azhar mengakui penerbangan langsung atau direct flight masih menjadi pilihan utama karena lebih efisien dan minim risiko bagi jemaah. Meski begitu, lonjakan harga tiket membuat banyak travel terpaksa mempertimbangkan penerbangan transit melalui negara lain.
Ia juga menyoroti kenaikan harga avtur, fluktuasi nilai tukar dolar, serta meningkatnya biaya operasional maskapai sebagai faktor yang memicu mahalnya tiket pesawat umroh.
Meski memahami kondisi industri penerbangan, Azhar berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi melalui relaksasi kebijakan dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait agar biaya perjalanan ibadah tidak semakin membebani masyarakat.
“Kami berharap pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif, bisa turun tangan. Ini bukan sekadar bisnis komersial, tetapi layanan ibadah umat,” tegasnya.
Azhar menambahkan, AMPHURI bersama sejumlah asosiasi di tingkat pusat terus berkomunikasi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Haji, DPR RI, serta maskapai penerbangan untuk mencari jalan keluar atas persoalan tersebut.
“Jangan sampai momentum ini dimanfaatkan untuk menaikkan harga setinggi-tingginya karena travel umroh dianggap sangat bergantung pada maskapai. Ini menyangkut kepentingan ibadah masyarakat,” pungkasnya.(**)








