RUANG.NEWS MAKASSAR – Perum Bulog Kantor Cabang Makassar telah menyalurkan sekitar 2.500 ton beras ke sejumlah wilayah di Indonesia Timur sepanjang 2026.
Distribusi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerataan stok pangan nasional sekaligus menjaga ketersediaan beras di daerah yang mengalami kekurangan pasokan.
Pimpinan Perum Bulog Kantor Cabang Makassar, Faris Sudirman, mengatakan pengiriman dilakukan berdasarkan kebutuhan daerah yang stok berasnya terbatas. Bulog Cabang Makassar menjalankan distribusi setelah menerima penugasan dari kantor pusat.
“Wilayah yang stoknya kurang kami suplai dari Cabang Makassar. Ini bagian dari pemerataan stok agar kebutuhan beras di daerah tetap tercukupi,” kata Faris, Selasa (2/6/2026).
Hingga awal Juni 2026, Bulog Makassar telah mengirim sekitar 500 ton beras ke Maluku dan Maluku Utara melalui gudang di Ambon. Selain itu, Bulog menyalurkan 1.000 ton beras ke Papua, 500 ton ke Sulawesi Tengah, serta sekitar 500 ton ke Kalimantan Barat, termasuk wilayah Ketapang.
Faris menjelaskan, seluruh distribusi beras diawali dengan permintaan dari kantor wilayah penerima. Selanjutnya, kantor pusat Bulog menugaskan Cabang Makassar untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Kalau ada kebutuhan tambahan di daerah tertentu, mereka mengajukan permintaan ke pusat. Setelah itu, pusat menugaskan kami untuk mengirimkan beras ke wilayah tersebut,” ujarnya.
Menurut Faris, ketersediaan stok beras saat ini tidak menjadi kendala dalam proses distribusi. Tantangan utama justru berasal dari faktor cuaca yang dapat memengaruhi jadwal pelayaran dan pengiriman antarpulau.
“Kalau masalah stok sebenarnya aman. Yang biasanya menjadi kendala hanya cuaca yang dapat memengaruhi pengiriman kapal,” katanya.
Ia menambahkan, daerah penerima seperti Papua dan Maluku umumnya telah menyusun proyeksi kebutuhan beras beberapa bulan sebelumnya. Langkah tersebut memungkinkan pengajuan permintaan lebih awal sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.
“Biasanya kebutuhan sudah diestimasi untuk beberapa bulan ke depan, sehingga risiko kelangkaan bisa diminimalkan,” tambahnya.
Faris juga memastikan seluruh beras yang didistribusikan berasal dari hasil produksi dalam negeri. Saat ini, Bulog Sulawesi Selatan tidak lagi bergantung pada beras impor karena produksi lokal dinilai mampu memenuhi kebutuhan.
“Kalau untuk Sulawesi Selatan, beras impor sudah tidak ada. Semua yang kami kelola merupakan beras lokal,” tegasnya.
Untuk menjaga ketahanan pangan di tengah potensi gangguan distribusi akibat cuaca, Bulog Makassar terus berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait. Saat ini, stok beras yang tersimpan di wilayah kerja Bulog Makassar mencapai sekitar 40 ribu ton.
Jumlah tersebut belum termasuk cadangan beras yang berada di kantor-kantor cabang Bulog di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
“Stok yang ada di Makassar sekitar 40 ribu ton. Dengan kondisi ini dan ditambah musim panen berikutnya pada Agustus mendatang, kami optimistis ketahanan stok beras tetap aman,” ujar Faris.
Bulog Makassar juga memastikan pasokan beras di pasar tetap terjaga melalui berbagai program distribusi, termasuk Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Karena itu, masyarakat diminta tidak khawatir terhadap ketersediaan beras dalam beberapa bulan mendatang.(**)








