RUANG.NEWS MAKASSAR — Audisi Umum PB Djarum 2026 kembali digelar di Kota Makassar setelah terakhir kali menyambangi Kota Daeng satu dekade lalu.
Kegiatan yang diprakarsai Bakti Olahraga Djarum Foundation tersebut berlangsung di GOR Dafest Makassar, Sulawesi Selatan, pada 4–8 Agustus 2026.
Sebanyak 233 peserta dari 73 kota dan kabupaten ambil bagian dalam ajang pencarian bibit atlet bulutangkis tersebut.
Para peserta bersaing pada tiga kategori usia, yakni U-11, KU 11, dan KU 12, baik putra maupun putri. Memasuki hari kedua pelaksanaan, proses seleksi telah memasuki babak semifinal.
Pelatih Tunggal Putri PB Djarum, Ari Yuli Wahyu Hartanto, mengungkapkan bahwa penilaian terhadap peserta tidak hanya bertumpu pada kemampuan bermain, tetapi juga mencakup aspek teknik dasar, kondisi fisik, hingga karakter.
“Kalau untuk detailnya tentu sampai pada pembahasan teknik. Yang paling dasar adalah teknik pukulan, footwork atau langkah kaki, serta aspek teknis lainnya. Selain itu, kami juga melihat daya juang atlet,” ujarnya, Kamis (6/8).
Menurut Wahyu, sektor tunggal putri membutuhkan atlet yang tidak hanya memiliki teknik mumpuni, tetapi juga mental yang kuat dalam menghadapi tekanan pertandingan.
“Atlet putri cenderung lebih mellow. Karena itu, kami ingin memiliki atlet putri yang tangguh. Selain tekniknya bagus, fisiknya juga harus baik. Jika memiliki karakter yang tangguh, itu akan menjadi nilai tambah dan sangat menentukan perkembangan mereka ke depan,” katanya.
Terkait rencana perubahan sistem poin pertandingan pada tahun depan, Wahyu menilai perubahan tersebut tidak akan banyak memengaruhi proses pencarian bibit atlet.
“Kalau memengaruhi mungkin ada, tetapi tidak terlalu banyak. Saat durasi pertandingan menjadi lebih pendek, aspek speed, kecepatan, dan kekuatan memang akan lebih berperan. Namun, dalam mencari bibit atlet kami tetap berpegang pada hal-hal paling mendasar, yakni teknik pukulan dan langkah kaki. Itu tetap menjadi prioritas utama,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan sistem poin lebih berdampak pada strategi dan pola permainan dibandingkan dengan kriteria dasar dalam proses seleksi atlet.
Wahyu juga menegaskan bahwa peserta yang belum berhasil lolos tetap memiliki kesempatan untuk kembali mengikuti audisi pada tahun berikutnya.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba lagi. Bisa saja sebelumnya mereka belum memenuhi kriteria yang kami harapkan. Semoga mereka bisa belajar dari pengalaman itu, berlatih lebih keras, dan memiliki peluang lebih besar untuk lolos,” tuturnya.
Melihat potensi atlet dari Makassar dan kawasan Indonesia Timur, Wahyu mengaku optimistis daerah tersebut mampu melahirkan pebulutangkis berprestasi.
“Saya cukup optimistis. Di Makassar, atau lebih luas lagi di Sulawesi, banyak atlet yang memiliki karakter tangguh. Teknik mereka juga baik, kondisi fisiknya bagus, dan karakternya mendukung. Mudah-mudahan jika mereka bergabung dengan PB Djarum, mereka dapat menjadi penerus sektor tunggal putri Indonesia,” pungkasnya.(***)






